Ruhut Singgung Soal 'Gabener' Terpilih karena SARA hingga Bohong, Sindir Anies Baswedan?

Ruhut Singgung Soal 'Gabener' Terpilih karena SARA hingga Bohong, Sindir Anies Baswedan?

R
Resty

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Ruhut Sitompul, politisi Partai Demokrasi Indonesi Perjuangan (PDIP) kembali menyindir seseorang yang ia sebut sebagai 'Gabenar.'

Ruhut menilai bahwa 'gabener' tersebut dulu terpiliha karena SARA, ujaran kebencian, fitnah, bahkan teror.

"Hahaha. Gabenar terpilih waktu itu tegas aku katakan karena SARA, ujaran kebencian, fitnah, teror," tulisnya di akun Twitter @ruhutsitompul pada Kamis, 18 Februari 2021.

Ruhut lalu menambahkan bahwa alasan lain mengapa 'Gabener' itu terpilih adalah janji-janji saat kampenye yang bohong.

Ia menilai bahwa kini kebohongan-kebohongan itu terkuak dan masyarakat pemilihnya menjadi korban.

"Ada satu lagi tidak pernah aku katakan, bohong. Karena hampir semua janji Kampanyenya berbohong dan sekarang telanjang satu persatu dan yang menjadi korban Rakyat pemilihnya. MERDEKA!" lanjut Ruhut.

Cuitan Ruhut tersebut diduga ditujukan kepada Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta uang dulu menang melawan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada tahun 2017.

Dugaan tersebut dapat dilihat dari komentar pada warganet yang membalas cuitan Ruhut dengab menyebut nama Anies.

"Hahahaha Ngeprank nya Anies berhasil membawa Keberpihakan Supporter utamanya bebas berkarya, gajih tetap mengalir bahkan berani acak-acak APBD DKI Jakarta. Gubernur pembohong," balas @KKoesut.

"Jkt 58 iklas dibohongi. Lihat aja mereka masih mengagung-agungkan jadi president 2024. Dan gara-gara Anies menang, mereka berpesta karena yakin sudah masuk surga. Gila gak ndrooo," komentar @AryantoSiahaan.

Untuk diketahui, Jkt 58 mengarah pada pendukung yang dulu memilih Anies dalam Pemilihan Gubernur.

Dilansir dari artikel Merdeka.com yang terbut pada 5 Mei 2017, perolehan suara Anies-Sandiaga Uno ketika itu adalah 3.240.987 atau 57,96 persen.

Sementara, pasangan nomor pemilihan dua, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat memperoleh 2.350.366 atau 42,04 persen.