Terkini.id, Jakarta – Mantan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli melontarkan sindiran keras kepada Presiden Joko Widodo alias Jokowi.
Ia menyinggung bahwa di bawah Pemerintahan Jokowi, rakyat diberi gula-gula dan lemparan hadiah, namun pajak dan tarif-tarif naik.
Hal ini disampaikan Rizal Ramli melalui akun Twitter pribadinya, @RamliRizal pada Kamis, 21 April 2022.
“Serius, akibat kebijakan Jokowi yang sangat neoliberal dan pro-oligarki, rakyat diberi gula-gila dan lemparan hadiah, bagus untuk PR, tapi pajak dan tariff-tarif naik! Mbah Jawi bilang bener ning ora pener,” katanya.
Bersama pernyataannya, Rizal Ramli membagikan berita berjudul “Bank Dunia: 115 Juta Penduduk Indonesia Rawan Kembali Miskin”.
Berita Kompas ini membahas soal Bank Dunia yang merilis laporan bertajuk Aspiring Indonesia, Expanding the Middle Class pada tahun 2020.
Di dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa meski pemerintah telah berhasil menekan angka kemiskinan di bawah 10 persen, sebanyak 45 persen atau mencapai 115 juta populasi penduduk Indonesia masuk kategori rentan atau terancam bisa kembali masuk kategori miskin.
World Bank Acting Country Director untuk Indonesia, Rolande Pryce menjelaskan bahwa kelompok tersebut adalah yang berhasil keluar dari garis kemiskinan, tetapi belum berhasil masuk ke dalam kelompok kelas menengah.
Pryce mengatakan, masa depan Indonesia berada di kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class tersebut.
“Terdapat beberapa alasan mengapa kelompok kelas menengah menjadi penting untuk Indonesia. Hal tersebut berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa hal, dan hal tersebutlah yang kami telusuri,” ujar Pryce ketika memberi keterangan di Jakarta, Kamis, 30 Januari 2020.
“Namun, di sisi lain, terdapat peran penting kelas menengah bagi kondisi politik dan sosial yang bisa memberikan dampak pada tata kelola dan kebijakan pemerintah,” sambungnya.
Pryce menyebut, dalam 15 tahun terakhir, Indonesia telah meningkatkan jumlah populasi kelas menengah dari 7 persen menjadi 20 persen dari total penduduk atau setara dengan 52 juta orang.
Selain itu, dalam setengah abad terakhir, Indonesia melakukan percepatan pertumbuhan yang turut mendorong RI masuk kategori negara berpendapatan menengah.
“Pada tahun 1967 Produk Domestik Bruto Indonesia (PDB) hanya 657 dollar AS per kapita, menjadikannya sebagai salah satu negara termiskin di dunia,” kata Pryce.
“Selama 50 tahun berikutnya, dengan pertumbuhan rata-rata 5,6 persen per tahun PDB per kapita tumbuh enam kali lipat menjadi hampir 4.000 dollar AS,” tambahnya.
Bank Dunia menilai Indonesia perlu untuk terus mengarahkan setiap kebijakan untuk mendorong kelompok yang rentan kembali miskin tersebut untuk masuk ke kelas menengah.
Tak hanya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, hal tersebut bisa membantu dalam mengurangi kemiskinan dan kesenjangan.
Hal tersebut bisa dilakukan dengan meningkatkan jumlah penduduk yang lulus pendidikan sekunder dan tersier agar bisa mendapatkan skill yang dibutuhkan di dunia kerja modern.
“Ini akan menempatkan mereka untuk bisa mendapatkan akses terhadap pekerjaan yang lebih baik. Selain itu, juga sistem perlindungan sosial yang komprehensif untuk melindungi kelompok tersebut dari guncangan atau shock,” ujar Pryce.










