Terkini.id, Jakarta - Para pecinta film minggu ini mungkin akan disibukkan untuk pulang pergi ke bioskop sekitar. Karena salah satu film yang menjadi antisipasi tinggi masyarakat telah hadir di Indonesia. Tidak lain dan tidak bukan yaitu Everything Everywhere All at Once.
Film yang bergenre sci-fi action berbalur komedi ini di produksi oleh A24 dan diproduseri oleh filmmaker populer asal Amerika Serikat, Anthony dan Joe Russo, atau biasa disebut The Russo Brothers. Nama tersebut tentunya sudah tidak asing karena keduanya pernah menahkodai film-film besar seperti Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame.
Everything Everywhere All at Once disutradarai oleh Daniels (Daniel Kwan, Daniel Scheinert) yang sebelumnya pernah menyutradarai film berjudul Swiss Army Man (2016). Film yang memiliki durasi sepanjang 140 menit ini dibintangi oleh Michelle Yeoh, Jamie Lee Curtis, Stephanie Hsu, Ke Huy Quan, dan masih banyak lagi.
Melansir dari berbagai sumber, Everything Everywhere All at Once menjadi film produksi A24 dengan pendapatan kotor tertinggi sebesar $80.9 juta dolar, menggeser film Ari Aster bertajuk Hereditary yang hanya memperoleh $80.2 juta dolar. Berdasarkan situs Rotten Tomatoes, film ini juga mendapatkan nilai Tomatometer dari para kritikus situs sebesar 97 persen.

Everything Everywhere All at Once menceritakan seorang ibu bernama Evelyn Wang (Michelle Yeoh) yang memiliki usaha laundry bersama suaminya. Satu keadaan terpaksa membawanya ke dalam situasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Evelyn dituntut untuk bisa menyelamatkan dunia dengan menjelajahi multisemesta yang nyatanya itu semua terhubung dengan kehidupan yang biasa ia jalani.
Konsep multiverse atau multisemesta tentunya sudah menjadi ide paling segar untuk digunakan. Konsep tersebut sebelumnya bisa ditonton di film Doctor Strange in the Multiverse of Madness produksi Marvel Studios. Film yang kaya akan efek visual yang memanjakan mata dimana-mana. Tetapi hal itu tidak berlaku di film yang dibintangi oleh Michelle Yeoh ini.
Film ini memiliki cerita yang kuat dan mempunyai kesan yang beragam dan mendalam. Memulai dari seorang ibu yang berasal dari Tiongkok menjalani kehidupan sehari-hari sebagai laundromat. Ia hidup bersama seorang suami yang penyayang, ayahnya yang tak mengakui dirinya sebagai anak karena salah memilih pasangan hidup, dan anaknya yang memiliki orientasi seksual yang berbeda. Rasa trauma dan penyesalan yang selalu ada dibenaknya membuat dirinya tidak lagi mensyukuri hidup, belum lagi dirinya harus dihadapi oleh panggilan untuk mengurus pajaknya. Terlebih lagi, versi lain dari suaminya, Waymond, yang datang dari realitas yang berbeda meminta Evelyn untuk menyelamatkan multisemesta dan hanya dialah yang mampu untuk menyelamatkan itu semua.
Perjalanan menuju multisemesta yang dihadirkan tentunya menawarkan sesuatu yang segar. Film ini memiliki jumlah yang kecil untuk bagian efek visual. Berbeda dari film Marvel tersebut, efek visual yang ditawarkan tidak mewah dan bombastis. Tetapi kesan dalam perjalanan ke alam semesta yang berbeda penuh dengan tawa dan aksi. Dengan suguhan koreografi martial arts yang memukau dan komedi situasi yang natural.
Sang sutradara, Daniels, mempunyai arahan yang fenomenal. Penggambaran cerita yang di visualisasikan ke layar lebar memiliki rasa yang aneh dan humor yang sedikit absurd. Kedua itu berhasil disatukan menjadi momen yang lucu dan berkesan. Selain itu, ada beberapa momen yang dapat menguras emosi penonton yang jaraknya tidak jauh dari yang disebutkan. Tentu ini sudah menjadi pengalaman menonton yang beda karena semuanya menjadi satu paket komplit tontonan yang menghibur tanpa harus kehilangan visual unik yang telah diberikan dengan nuansa genre fantasi.

Berbicara soal performa akting, Michelle Yeoh tentu menjadi pusat perhatian sepanjang film. Memerankan seorang ibu yang memiliki emosi yang kompleks, Yeoh benar-benar sangat lepas disini dan menjadikan film ini sebagai performa akting terbaik sepanjang karirnya di layar lebar. Stephanie Hsu sangat baik dalam memerankan karaker seorang anak yang memiliki kemampuan yang ada di film yang mempunyai rasa yang indah dan aneh secara bersamaan. Ke Huy Quan tampil luar biasa dengan versi realitas yang berbeda-beda memiliki kesan yang seru dan membuat hati hangat dibuatnya.
Secara keseluruhan, Daniels telah memberikan karya terbaik mereka selama bekerja dibalik layar. Dari segala aspek seperti sinematografi yang indah dan editing yang rapih, ditambah lagi dengan ceritanya ambisius dan juga inventif membuat film ini sangat menghibur, seru, dan memuaskan. Everything Everywhere All at Once adalah selebrasi sinema yang jarang sekali ditemui dan pantas untuk mendapatkan pujian yang tinggi. Menonton film ini di layar sebesar mungkin benar-benar sangat direkomendasikan.










