Remaja Lumpuh Bisa Jalan Usai Disuntik Vaknus, Daeng Faqih: Jangan Sampai Hanya Sekadar Efek Plasebo

Remaja Lumpuh Bisa Jalan Usai Disuntik Vaknus, Daeng Faqih: Jangan Sampai Hanya Sekadar Efek Plasebo

Rima Anhar

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta – Usai viral diberitakan remaja lumpuh bisa berjalan pasca disuntik Vaksin Nusantara buatan eks Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Terawan Agus Putranto, Mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng Faqih mengungkapkan jangan sampai hal tersebut hanya sekadar efek plasebo.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, efek plasebo adalah sebuah efek “palsu” yang dirasakan oleh pasien setelah mengonsumsi obat-obatan tanpa zat aktif.

Oleh karena itu, pasien dapat merasakan dampak yang dihasilkan tanpa adanya efektivitas yang terjadi terhadap penyakitnya.

Klaim atas Vaksin Nusantara yang dapat menyembuhkan kelumpuhan Vanessa (13), ia minta harus dapat dibuktikan dengan hasil penelitian lebih lanjut. Hal ini dikarenakan hanya baru satu orang yang menyatakan diri sembuh dari suntikan tersebut sehingga tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa Vaksin Nusantara dapat menyembuhkan.

“Kalaupun terjadi, kebetulan, itu jangan kemudian buru-buru didalilkan, karena kebetulan itu harus dibuktikan. Jangan satu kasus kemudian digeneralisir bahwa itu memiliki khasiat itu,” ucapnya pada CNNIndonesia.com, dikutip terkini.id pada Sabtu, 30 April 2022.

Menurutnya, vaksin tidak dapat memberikan efek menyembuhkan karena bekerjanya hanya untuk memproteksi atau mencegah dari virus dan bakteri tertentu secara spesifik.

Pernyataan Daeng ini juga serupa dengan Ketua Satgas Penanganan Covid-19 PB IDI, Zubairi Djoerban, yang mengungkapkan bahwa proses pengobatan dianggap berhasil jika telah melalui uji klinis 1, 2, dan 3.

Sementara sebagaimana yang telah diketahui, Vaksin Nusantara terkendala di Uji Klinis 1.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa sel dendrit yang terkandung dalam Vaksin Nusantara telah diujicobakan berulang kali pada pengobatan kanker, namun belum terbukti secara ilmiah dapat menyembuhkan.

“Jadi kembali lagi sel dendrit untuk vaksin itu belum ada bukti ilmiah Uji Klinis 1, 2, dan 3. Apalagi untuk menyembuhkan orang dari kelumpuhan,” ujarnya.