SEKIRA tiga bulan jelang pencoblosan Pilgub Sulsel 2018, seorang produser SCTV menghubungi saya dari Jakarta. Ia meminta difasilitasi untuk wawancara khusus dengan Ichsan Yasin Limpo (IYL).
Temanya seputar pencalonan dan visi misi IYL yang dikemas dengan obrolan santai. Katanya, stasiun televisi nasional ini akan menurunkan tim khusus dari Jakarta. Termasuk salah satu presenter andalannya, Reza.
Setelah mengomunikasikan ke IYL, ia merespons positif. Termasuk mengiyakan jadwal atau hari yang ditentukan oleh Tim Liputan SCTV dari Jakarta untuk sesi wawancara.
Dua hari sebelum pengambilan gambar dan wawancara, kami pun berkoordinasi untuk mempermantap persiapan. Maklum, ada beberapa segmen dalam sesi wawancara itu yang harus diikuti kandidat. Mulai wawancara sambil berjalan di Lapangan Syekh Yusuf, hingga closing statmen di depan Masjid Syekh Yusuf.
Di hari yang kami sepakati, tim dari SCTV sudah standby dari pagi di Lapangan Syekh Yusuf. Mereka mengecek kamera, audio dan visual sebelum IYL tiba di salah satu ikon Kabupaten Gowa tersebut.
Setelah IYL tiba, tim liputan memulai tugasnya. Sambil berjalan, sang presenter berbincang dengan pelopor perda pendidikan gratis di Indonesia itu. Ia menanyakan seputar visi-misi jika kelak Punggawa terpilih.
Seperti biasa, IYL nampak antusias mengurai visi-misinya, terutama soal pendidikan. Ia mampu menjelaskan secara meyakinkan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan presenter. Senyum mengembang juga terpancar dari mulut mantan Bupati Gowa dua periode itu.
Di sesi obrolan tentang Hobi, suasana begitu sangat mencair. Sang Presenter tak bisa menahan tawanya. Tangannya refleks menutup mulutnya, agar suara tawanya tak kedengaran meledak.
Mungkin ia tak menyangka dapat jawaban spontan dari IYL tentang hobinya yang suka main bola di masa dulu. Ia seperti berusaha menggali lebih dalam dari hobi yang disebutkan doktor bidang hukum pendidikan ini.
“Pak Ichsan suka main sepak bola?,” tanya presenter sedikit penasaran.
“Ia. Saya satu angkatan dengan Eri Cantona,” jawab IYL yang semakin membuat penasaran sang presenter, termasuk kameramen dan produser yang ikut di obrolan santai di pagi itu.
Antara yakin dan tidak percaya, presenter begitu cepat mengeluarkan pertanyaan tentang Eric Cantona. “Yang bapak maksud itu, Eric Cantona mantan pemain Manchester United?,” tanyanya dengan ekspresi wajah yang serius.
“Benar, Eric Cantona yang eks pemain MU. Dulu dia main di MU, sedangkan saya di kecamatan. Tapi di tahun yang sama. Jadi, satu angkatan,” urai IYL yang sontak mengundang tawa.
Produser program itu yang sibuk mengarahkan kameramennya dalam pengambilan gambar, juga tertawa terbahak. Padahal, biasanya di setiap sesi wawancara seperti itu, mereka tak boleh memperdengarkan suaranya dari luar.
Usai semua sesi wawancara, produser program tersebut membisiki saya jika ia merasa senang. Pengambilan gambarnya sangat cair. Tidak ada ketegangan. Benar-benar sesuai yang diinginkan, santai dan penuh keakaraban.
***
Tentang Ichsan Yasin Limpo, ia memang memiliki selera humor yang tinggi. Meski sering dipersepsikan oleh banyak orang sebagai sosok yang tegas, bahkan keras. Tapi jika sering bersentuhan dengannya, maka ada kehangatan yang bisa dirasakan.
Ia adalah pemimpin yang ternyata punya “stok” cerita lucu. Setiap saat, ia bisa memecah keheningan dengan cerita lucu yang dia sampaikan. Di dalam mobil saat perjalanan, maupun ketika duduk bersantai, ia mampu membuat kami tertawa terbahak.
Selain tak pernah kehabisan bahan cerita lucu, Punggawa juga punya koleksi video-video lucu yang tersimpan di smartphone pribadinya. Setiap saat, ia sering “mengerjai” orang yang akrab dengannya.
Kadang di awal sangat serius menjelaskan pengantar mengenai video itu hingga membuat orang di sekitarnya penasaran ingin melihatnya sebelum tertawa terpingkal begitu mengetahui ending dari video tersebut.
Selain memiliki selera humor yang tinggi, IYL juga kadang “usil” ke orang dekatnya. Salah satunya memotret atau merekam gambar secara sembunyi-sembunyi melalui ponselnya ketika di perjalanan melihat ada yang tertidur di dalam mobil yang ditumpanginya.
Setelah itu mengirimkan hasil jepretan dan rekamannya ke group WA tertentu atau ke kontak pribadi orang dekat lainnya yang dijadikan objek “usilnya”.
Selama melekat di IYL mulai satu tahun jelang pilgub hingga sebelum saya banyak menetap di kampung halaman di Wajo untuk pencalonan saya sebagai caleg kabupaten, saya begitu merasakan kehangatan almarhum.
Benar ia adalah tipikal pemimpin yang sangat tegas. Kadang memarahi orang yang dekat dengannya. Tapi dibalik itu, ia cepat bisa membuat suasana cair kembali dengan jok-jok cerita lucunya.
Bahkan, dalam kondisi sakit sekali pun, saya banyak mendengar cerita dari orang yang pernah membesuknya di Singapura, jika kebiasaan IYL itu masih sering ditunjukkan. Ia sepertinya tak ingin melihat ada air mata sedih, sehingga tak jarang ia justru menghibur ‘orang sehat’.
Cerita lucu dari mulut Punggawa, kini tinggal kenangan. Jika dulu membuat kami tertawa, maka sekarang ia membuat kami sedih. Sedih, karena kehilangan sosok yang peduli. Sedih, karena begitu memegang arti kesetiakawanan. Sedih, karena sosoknya sangat bersahaja. Sedih, karena tak bisa mendengar lagi ide dan pikiran-pikirannya untuk masa depan bangsa ini.
Sekali lagi, selamat jalan pemimpin panutan!
Makassar, Ahad 4 Agustus 2019
“Murid Baruta’”, Arif Saleh