Kebutuhan energi yang besar ini mempengaruhi ketahanan energi dan neraca pembayaran dengan tagihan impor tahunan ditetapkan mencapai USD 280 miliar pada tahun 2040.
Total emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor transportasi pada tahun 2015 mencapai sekitar 342 juta ton setara CO2 (MtoCO2e ), yaitu sekitar seperempat dari total emisi CO2 terkait energi. Dalam skenario Business-As-Usual (BAU), jumlah ini dapat meningkat 3,3% per tahun menjadi 870 juta ton pada tahun 2050.
Komitmen terbaru dari para Pemimpin ASEAN tentang pendekatan jaringan terpadu ini disambut baik. Namun, pelaksanaan usaha besar tersebut memerlukan pemahaman dan program dalam ekonomi manufaktur yang paling dasar yaitu kurva biaya, lebih khusus lagi, kurva biaya marjinal yang mencerminkan kemampuan produksi komparatif di pasar terbuka dan bebas dan persaingan yang disajikan oleh produsen efisien seperti Cina, AS dan Eropa. Oleh karena itu, ada kebutuhan nyata yang wajib dan mendasar untuk mengembangkan dan memelihara kemampuan teknologi komparatif.
Menyadari bahwa E20 (Engineering 20) diinisiasi dan diperkenalkan oleh PII untuk menjadi Engagement Group G20 2022 di mana Indonesia bertindak sebagai tuan rumah, prinsip dasar E20 dapat diterapkan dalam proposal saat ini, yaitu:
- PII Indonesia adalah “penggagas” AFEO EV Ecosystem Platform untuk menjawab panggilan (merespon deklarasi) para Pemimpin ASEAN.
- Inisiatif aktif PII adalah kontribusinya terhadap tantangan dan resolusi dunia saat ini dalam menghadapi perubahan Iklim, transformasi digital, dan perawatan kesehatan.
- Pada dekade terakhir ini demikian banyak pendapat atau pandangan (opini) ataupun saran-saran yang dilontarkan oleh berbagai pembicara internasional, namun tidak banyak tindakan nyata atau implementasi yang dilakukan. Cara ini perlu diperbaiki dengan memberikan tindakan nyata dan implementasi yang dipimpin oleh apa yang disebut Leader Engineer (“LE”)—sebuah sebutan yang diberikan kepada individu tertentu yang memiliki sifat, kapasitas, kualifikasi, mental, dan rekam jejak kepemimpinan tertentu.
- Fundamental ekonomi mikro produksi EV dan ekosistem bergantung pada kemampuan teknis yang direpresentasikan dalam biaya marjinal dan karakteristik kurva penawaran. Dengan demikian, peran para insinyur sangat penting untuk menentukan apakah sebuah perusahaan manufaktur kompetitif dan layak.
- AFEO EV Ecosystem Platform, selain dari retorika dan pembangunan citra, akan berfungsi sebagai platform kolaborasi untuk menghasilkan hasil yang nyata dan nyata.
Oleh karena itu, merupakan kehormatan dan kebanggaan bagi Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan semua Institusi Insinyur ASEAN untuk memprakarsai platform kerja yang progresif ini dan program-program berorientasi aksi untuk mewujudkan Deklarasi Pemimpin ASEAN.










