Terkini.id, Semarang -Teman-teman sekalian, dalam rangka menghambat penyebaran COVID-19, pemerintah telah menganjurkan agar pembelajaran di sekolah-sekolah dilaksanakan secara online atau Dalam Jaringan (Daring)—berkebalikan dengan pembelajaran di Luar Jaringan (Luring)—tatap muka fisik di kelas konvensional.
Banyak yang heboh, baik Guru, Siswa, maupun Orangtua soal ini. Berkaitan dengan hal itu, Edi Subkhan, pakar Kurikulum dan Tekonologi pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes) memberikan gambaran dasar mengenai bagaimana sebaiknya dan tepatnya pembelajaran daring dilaksanakan sekarang.
Menurut informasi yang diteken melalaui Via Email pribadinya kepada redaksi Terkini.Id (01/04/2020), Pembelajaran daring dalam media atau platform yang dimaksud lebih yang dalam bentuk Learning Management System (LMS) atau Virtual Learning Environment (VLE) seperti Moodle, Edmodo, dan sejenisnya. Berikut penjelasan beliau;
Apa tujuan pembelajaran daring?
Pembelajaran daring bertujuan untuk memudahkan aktivitas belajar. Caranya dengan:
menyediakan banyak sumber belajar yang mudah diakses.
pembelajaran yang fleksibel metode, tempat, dan waktunya.
bisa sepenuhnya daring, bisa kombinasi daring dan luar jaringan (luring)—tatap muka fisik konvensional.
Setelah mengenal tujuannya, apa saja prinsip-prinsip pembelajaran daring.
Prinsip pertama
Pembelajaran daring jangan sampai menambah beban guru dan siswa, karena tujuannya untuk memudahkan belajar.
Jika menambah beban, pasti ada yang salah. Cari tahu, apa sebabnya?.
Bisa karena sarana tidak siap, bisa karena materi tidak siap.
Jika sarana tidak siap, jangan paksa untuk belajar daring, beri tugas belajar sewajarnya dengan instruksi yang jelas dan sesuai tujuan belajar.
Kuncinya: memudahkan belajar, banyak sumber, dan fleksibel
Prinsip kedua
Terjadinya proses belajar adalah kunci keberhasilan pembelajaran daring.Oleh karena itu perlu:
berupaya untuk selalu berkomunikasi dengan siswa/mahasiswa di dalam sistem
beri stimulus yang baik, beri respons, dan buka ruang berdialog secara demokratis, jika perlu boleh diselingi humor
tiap tugas harus ada balikan(feed back),memberi balikan, dan bimbinglah dengan baik
beri instruksi yang jelas, dan jika siswa masih belum paham, jelaskan ulang secara dialogis-humanis.
Memastikan siswa/mahasiswa belajar tak harus dengan selalu melakukan video call/conference, juga tidak harus dengan selalu memberi tugas terstruktur untuk tiap materi, tidak juga harus ada pre-tes dan post-tes tiap sesi belajar
Prinsip ketiga
Menyediakan banyak sumber tidak perlu kita (guru/dosen) semua yang menyiapkan.
Di internet banyak sekali sumber belajar yang dapat digunakan. Manfaatkan saja.
Jika tidak, maka harus ada tim pengembang media atau content yang mem-back up kita.
Sumber materi audiovisual dapat diperoleh di YouTube, Khan Academy, dan lainnya.
Sumber teks misal di berbagai website jurnal ilmiah & media massa terpercaya.
Selain itu juag harus pilih platform atau produk yang akan digunakan, misal Edmodo, Schoology, Google dengan berbagai fiturnya, atau bahkan Facebook dan WhatsApp.
Semua memiliki keunggulan dan keterbatasannya masing-masing.
Untuk waktu yang mendesak, manfaatkan berbagai sumber yang tersedia di dunia maya Untuk jangka panjang, perlu ada tim tersendiri di sekolah/kampus yang mendukung
Prinsip keempat
Fleksibel metode pembelajaran artinya menyesuaikan karakteristik materi dan siswa.
Fleksibe tempat artinya tidak harus di kelas fisik konvensional, boleh di rumah, kost, dan lainnya.
Fleksibel waktu artinya tidak harus tepat waktu seperti pertemuan tatap muka di kelas, biasanya pembelajaran daring, waktunya lebih lama dan tidak harus saat itu juga.
Mode synchronous; Video Call, Webinar, Teleconference, Skype, Zoom dan lainnya.Mode asynchronous; Forum diskusi, Instant, messaging, Mailing list, Email dan lainnya.
Prinsip kelima
Pembelajaran daring merupakan bentuk personalisasi pembelajaran Artinya, pembelajaran daring potensial memfasilitasi kebutuhan belajar siswa yang beragam.
Pihak yang paling berkuasa atas proses belajar ialah diri siswa sendiri.
Oleh karena itu, sebagian besar kegagalan dan keberhasilannya ditentukan oleh siswa sendiri.
Dengan demikian, membangun niat, kesadaran, motivasi, dan perilaku belajar yang baik untuk siswa harus dilakukan dan dikawal selalu.
Tanpa kesadaran, siswa akan selalu cari celah untuk sekadar terlihat aktif atau terlihat berkualitas dalam mengerjakan tugas daring
Kesadaran perlunya serius belajar dari siswa/mahasiswa perlu diimbangi dengan guru/dosen mengontrol pembelajaran secara berkala, caranya:dengan memberikanstimulus, respons, balikan(feed back) dan lainnya
Bagaimana sudah diterapkan nga?
Cukup sekian dulu ya.. semoga bermanfaat










