Terkini.id, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengomentari soal sejumlah kritik keras yang dilayangkan para buzzer terhadap dirinya.
Menurut Anies Baswedan, merupakan hal yang wajar jika dirinya kerap dikritik lantaran ia masuk dalam lingkaran pemerintahan.
"Kritik itu bukan hal baru kalau di wilayah publik, harus siap untuk jadi kotak pos kritik dari siapa pun," kata Anies.
Namun, Anies memperingatkan kepada buzzer yang kerap melontarkan ucapan keras terhadapnya agar hati-hati menulis kritiknya lantaran hal itu bisa jadi akan mempermalukan diri mereka sendiri.
"Bila ungkapan kritik diungkapkan kasar, itu memang ekspresi kemampuan dia. Bagi saya yang bekerja ini adalah ungkapan pendapat rakyat baik yang mendukung nggak mendukung, baik mencaci, baik yang kasar kata-katanya. Semakin kasar itu akan semakin memermalukan dirinya sendiri bukan ke saya," ungkap Anies Baswedan, Selasa 16 Februari 2021 lewat tayangan wawancara di tvOne.
Menurutnya, semakin kritikan yang dilontarkan buzzer maka akan menjadi catatan keturunan pengkritik di masa akan datang.
Demikian pula, kata Anies, bagi pejabat publik sebab di zaman saat ini apa yang diucapkan para pejabat publik bisa terekam permanen lewat jejak digital.
"Termasuk bagi buzzer dan siapa pun, jangan sampai di kemudian hari harus men-delete yang ditulis. Ketika seorang men-detele yang ditulis itu sebenarnya dia sedang mengatakan saya malu pada diri sendiri," tutur mantan Mendikbud ini.
Mengutip Hops.id, Anies Baswedan dalam tayangan tersebut juga menilai kritik yang ditujukan terhadapnya adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Bahkan menurutnya, kritik bukan barang baru namun dari dulu sudah ada.
Akan tetapi, menurut Anies, sekarang di era digital kritik sudah menjadi semakin masif.
"Dari dulu sebetulnya sudah ada (kritik atau buzzer) tapi bedanya dulu kan obrolan warung kopi tak terdengar, sekarang ngobrol nge-tweet, ngobrol di mana nulis nge-tweet. Dulu telinga cuma dua sekarang seribu dua diribu," jelasnya.
Kendati demikian, Anies berpesan kepada para buzzer dan pengkritik agar terus bersuara namun jangan baper dengan menempatkan sebagai masalah pribadi.
Anies Baswedan mencontohkan, misalnya buzzer mengkritik permasalahan di Jakarta maka hal itu tidak masalah. Namun, ia berdalih masalah di Jakarta tersebut bukan baru terjadi 3 tahun belakangan ini tetapi sudah sejak bertahun-tahun lalu.
"Ketika orang mengkritik rileks saja, anggap orang mengkritik itu bagian dari ungkapan pandangan," ujarnya.










