Supaya Malaysia Tidak Berkuasa, Pengamat Ekonomi Minta Agar Pemerintah Cabut Larangan Ekspor Kelapa Sawit

Supaya Malaysia Tidak Berkuasa, Pengamat Ekonomi Minta Agar Pemerintah Cabut Larangan Ekspor Kelapa Sawit

I
Indah

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Mohammad Faisal selaku Direktur Eksekutif CORE Indonesia meminta pemerintah agar mereka mencabut larangan ekspor CPO atau kelapa sawit.

Dilansir dari CNN Indonesia, Minggu 8 Mei 2022, pengamat ekonomi tersebut juga menyatakan bahwa dengan mencabut kembali larangan kelapa sawit maka Indonesia bisa mengambil alih pasar sawit dari penguasa saat ini, Malaysia.

"Cuma yang harus diwaspadai ini kan selama larangan ini berlaku masih banyak tumpukan CPO di dalam negeri, dan itu ada masa expired. Bisa rugi kalau terlalu lama di setop, jadi harus disalurkan. Apalagi CPO dan turunannya sebagian besar kan pasarnya di ekspor," ujar Faisal kepada CNNIndonesia.com, Minggu 8 Mei 2022.

Faisal juga berpendapat harga minyak hingga saat ini semakin tinggi sehingga tidak bisa diselesaikan dengan strategi pelarangan ekspor kelapa sawit.

"Ini akar masalahnya harus dicari," ungkapnya.

Pendapat yang sama juga disebutkan oleh Bhima Yudhistira selaku Direktur Center of Economics and Law Studies (CELIOS) yang berujar bahwa pilihan terbaik untuk mengatasi masalah minyak adalah mencabut kembali larangan ekspor kelapa sawit.

Bhima menilai Indonesia harus kembali merebut pasar ekspor yang telah didominasi oleh Malaysia. Ia menilai pemerintah juga harus memberikan fasilitas terhadap pemain sawit dengan calon buyer luar negeri untuk normalisasi perdagangan kembali

Larangan ekspor kelapa sawit dinilai merupakan suatu kebijakan yang salah karena membuat Malaysia ketiban durian runtuh dua kali.

Pertama, harga CPO pasca pelarangan ekspor naik 9,8 persen dibanding satu bulan yang lalu.

"Harga CPO saat ini tercatat 6.400 RM per ton," tutur Bhima dikutip dari CNN Indonesia, Minggu 8 Mei 2022.

Kedua, importir sawit khususnya di India, China dan Eropa mencari alternatif sawit ke Malaysia.