Terkini.id, Jakarta - Isu tentang penganiayaan Muslim Uighur di China semakin hangat diperbincangkan setelah banyak tokoh penting dan bintang papan atas membahas mengenai hal ini di media sosial.
Salah satu publik figur yang menyinggung soal derita Muslim Uighur yakni pesepakbola muslim, Mesut Ozil.
Dalam unggahannya di Twitter pribadinya, pemain Arsenal ini menggambarkan bahwa derita yang dialami kaum muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China sudah terlalu keji.
“Turkistan Timur. Luka berdarah umat. Mereka melawan kekuatan yang coba memisahkan mereka dari agama mereka. Para laki-laki ditahan di kamp, sementara keluarga mereka dipaksa hidup dengan orang-orang China. Para wanita juga dipaksa menikah dengan orang China,” tulis Ozil melalui akun twitternya.
Terkait penderitaan Muslim Uighur, Human Rights Watch dalam laporannya menyatakan bahwa para tahanan dipenjara tanpa melalui proses yang menjadi haknya, tidak didakwa ataupun diadili, dan tidak diberikan akses ke pengacara ataupun keluarga.
Salah seorang dari etnis muslim yang sempat merasakan berada di kamp penahanan tersebut yakni Orynbek Koksybek.
Dilansir dari BBC pada Februari 2019, Orynbek Koksybek merupakan seorang etnik Kazakh yang selama berbulan-bulan berada di kamp penahanan itu.
"Saya menghabiskan tujuh hari di neraka di sana. Tangan saya diborgol, kaki saya diikat. Mereka menjebloskan saya ke lubang. Saya mengulurkan kedua tangan dan melihat ke atas. Saat itu, mereka menyiram saya. Saya berteriak," kata Orynbek.
"Saya tidak ingat apa yang terjadi kemudian. Saya tidak mengetahui mengapa saya berada di lubang tetapi saat itu musim dingin dan cuaca sangat dingin. Mereka mengatakan saya seorang pengkhianat, bahwa saya memiliki dua kewarganegaraan, saya berutang dan memiliki tanah. Tidak satu hal itu benar," ujarnya.
Seminggu kemudian, Orynbek Koksybek dibawa ke tempat lain dimana dia belajar bahasa dan lagu China. Dia diberitahu akan diizinkan pergi jika telah mengenal 3.000 kata.
"China menyatakannya sebagai kamp pendidikan kembali untuk mengajarkan orang. Tetapi jika mereka ingin mendidik, mengapa mereka memborgol orang?" kata Orynbek.
"Mereka menahan Kazakh karena mereka Muslim. Mengapa memenjara mereka? Tujuan China adalah menjadikan Kazakh sebagai orang China. Mereka ingin menghapus seluruh etnis itu," ujarnya.