Terkini.id, Makassar – Di tengah masyarakat yang gemar dalam budaya berlebihan saat menyajikan makanan, terdapat dua jenis kategori sampah limbah makanan yang perlu menjadi sorotan serius: "Left Over" dan "Food Waste."
Left Over adalah sisa makanan yang terbentuk karena penyajian makanan yang berlimpah, mewah, dan seringkali berlebihan dalam acara masyarakat. Kelebihan makanan ini sering kali berakhir sebagai limbah makanan.
Sementara Food Waste adalah sisa makanan yang terjadi baik saat dikonsumsi ataupun tidak. Sayangnya, dalam banyak kasus, makanan ini tidak dimanfaatkan sepenuhnya dan akhirnya menjadi limbah.
Kedua kategori ini berpotensi merusak lingkungan karena mengandung komposisi kimia yang tidak dapat didaur ulang. Bahkan lebih mengkhawatirkan, ketika sampah makanan ini membusuk, mereka melepaskan emisi gas rumah kaca yang tidak bisa diabaikan begitu saja, terutama ketika jumlahnya mencapai puluhan ton.
Menurut data dari World Resources Institute (WRI), emisi gas rumah kaca dari sampah makanan menyumbang 8% dari emisi global. Sebagian besar emisi gas yang dihasilkan adalah gas metana, yang memiliki potensi 25 kali lebih tinggi disbanding karbon dioksida dalam meningkatkan pemanasan global.
Pada tahun 2020, Indonesia sudah memasuki sinyal darurat sampah makanan. Bahkan pada tahun 2019, telah ditunjukkan bahwa Indonesia merupakan penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia setelah Saudi Arabia.
Pada tahun 2021, Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional mencatatsampah sisa makanan Indonesia mencapai 46,35 juta ton dalam skla nasional. Jumlah ini menduduki komposisi terbesar dari total sampah yang dihasilkan bahkan melebihi sampah plastic yaitu 26,27 ton.
Ironinya, masalah sampah tidak hanya menjadi isu lingkungan, namun menjadi isu ekonomi dan sosial. Dari segi ekonomi sampah tersebut setara dengan kerugiaan Rp. 213 – 551 triliun per tahun. Dari segi sosial, skita menemukan banyak masalah stunting pada balita yang mencapai lebih dari 8 juta anak.
Emisi GRK yang dihasilkan Indonesia selama 20 tahun terakhir mencapai 1.702,9 Megaton CO2 ekuivalen atau setara dengan 7,29% rata-rata emisi GRK per tahun.
Rata-rata emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dari 1 ton food waste besarnay 4,3 kali lipat dari left over. Lebih jelasnya, dari kelima rantai pasok pangan, penyumbang terbanyak emisi gas berasal dari tahap konsumsi.










