Terkini.id, Jakarta - Mantan teroris pelaku Bom Bali 1, Ali Imron mengungkapkan perbedaan aksi teror dahulu dengan aksi teror yang terjadi belakangan ini.
Ali Imron mengatakan, aksi teror dulu dan sekarang berbeda, dilihat dari tujuan aksi tersebut dilakukan.
Tujuan dia dan kelompoknya dahulu saat melakukan teror bom untuk memberi peringatan, namun saat ini, Ali menikai teror dilakukan untuk menebarkan ketakutan.
"Aksi-aksi yang terjadi, terutama setelah kami ditangkap sebagai pelaku Bom Bali, itu sebetulnya masih ada kaitannya, baik kaitan secara tujuan ataupun secara model aksinya," ujar Ali, dikutip dari Detik oleh terkini.id, Selasa, 6 April 2021.
"Nah yang membedakan adalah, contoh sekarang penyerangan ke gereja, penyerangan ke gereja yang pernah kami lakukan 20 tahun yang lalu. Adalah program senior saya Doktor Hambali, yang sekarang dipenjara di Guantanamo," imbuhnya.
Ia pun membeberkan aksi dulu saat dirinya menjalankan aksi teror.
"Jadi kami tugas di Jatim, kami ditempatkan waktu itu di Mojokerto, tiga gereja yang kami sasar. Itu masing-masing gereja dua bom, 1 bom bentuk kado natal 2,5 kg bobotnya, lalu berbentuk tas yang kami taruh di luar (gereja) 5 kg, jadi kecil," tutur Ali Imron
Menurut Ali, dulu teroris dilarang untuk mengebom rumah ibadah umat lain, itu salah satu etika jihad.
Ia bahkan mengatakan bahwa dahulu, teroris masih melihat situasi dan kondisi, apakah ada banyak perempuan dan anak-anak.
"Dan itu kami sebagai pelaku di lapangan, saya sendiri saya tempatkan di tempat yang kosong dalam gereja, ada etika dalam jihad, kita tidak boleh menyerang tempat ibadah. Nah oleh karena itu begitu kami lakukan, kami lihat jemaatnya mayoritas perempuan dan anak-anak, hati nurani kita menyampaikan mereka ini ndak bisa diserang," ucap Ali Imron.
"Jadi kami tempatkan di tempat yang kosong. Jadi ini semacam peringatan dan tidak ada bom bunuh diri," imbuh Ali Imron.
Ali Imron kemudian menilai bahwa etika jihad tak terlihat saat aksi bom di Gereja Katedral Makassar.
"Itu yang membedakan dengan kjejadian yang kemarin yang terjadi di Makassar. Itu yang membedakan dengan kejadian yang terakhir, yang terjadi di Makassar," pungkasnya.










