Sedangkan gelar kebangsawanan yang masih tergolong baru seperti “Andi” yang banyak digunakan oleh keturunan bangsawan bugis saat ini belum pernah diatur dalam masyarakat adat leluhur sehingga belum ada batasan mengenai aturan penggunaan gelar ANDI tersebut, apakah hanya keturunan bangsawan mabbati, ataukah juga keturunan bangsawan yang diwarisi dari ibunya, belum ditemukan aturan tentang ini sehingga selalu saja memancing perdebatan.
"Seperti halnya di tempat kelahiran saya Citta, dulu waktu saya masih kecil (karena saya masih kecil sudah hijrah ke maros dan setelah dewasa hijrah lagi ke kalimantan) hanya keturunan bangsawan yang memegang pemerintahan yang bergelar ANDI namun saat ini penyematan nama andi ini sudah semakin luas hampir semua yang ada keturunan bangsawannya baik trah dari ayah maupun ibu sudah menggunakan gelar Andi tersebut, dan ini sudah terjadi dimana-mana," ujar Dr. Nawawi.
"Dan tentu saja kita tidak dapat menghalangi karena disamping tidak ada memang aturannya dari leluhur kita karena itu adalah gelar baru dan juga kita tidak berada lagi pada tatanan masyarakat feodalisme," sambungnya.
Terakhir, kata Dr. Nawawi, kita patut bersyukur dengan kehadiran organisasi PERWIRA LPMT (Perkumpulan Wija Raja La Patau Matanna Tikka) yang anggotanya adalah Wija yang penuh dedikasi dan perhatian besar pada budaya adat istiadat leluhur, kita dorong dan dukung agar segenap wija dapat mewarisi karakter leluhur sebagai pengayom masyarakat dan dapat mewarnai kehidupan dimanapun ia berada.
"Kita memang perlu seorang Tokoh yang mumpuni seperti adindaku Sapri Pamulu dkk yang terbukti sangat menjunjung tinggi nilai budaya khususnya adat kebangsawanan agar sesama wija tetap kompak dan bersatu saling bahu membahu menorehkan karya nyata sebagai wija mabbati serta tidak saling mencederai dengan perdebatan-perdebatan yang tidak ada akhirnya," pungkasnya.










