Makna Haji Mabrur dalam Konsep Holistic Spiritual Journey yang Diusung Tazkiyah

Makna Haji Mabrur dalam Konsep Holistic Spiritual Journey yang Diusung Tazkiyah

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Madinah - Tazkiyah Tour mengusung kalimat Holistic Spiritual Journey pada berbagai properti yang dibawa jemaah haji khususnya tahun ini. Apa maknanya?

CEO Tazkiyah Tour, Ahmad Yani Fachruddin menuturkan, perjalanan ibadah haji atau bahkan juga umrah, tidak hanya melibatkan dimensi spiritual, tetapi juga fisik dan mental.

"Makanya, pelayanan kami lakukan secara holistik, lengkap dan seimbang. Kami fokus pada bimbingan spiritual, kegiatan kebugaran, dan perawatan kesehatan," tutur Ahmad Yani dari Madinah, Minggu, 2 Juni 2024. Saat berita ini diturunkan, 208 jemaah haji khusus Tazkiyah Tour sedang dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah untuk menyambut puncak musim haji.

Ahmad Yani menambahkan, Holistic Spiritual Journey bisa didefinisikan ke dalam tiga kata kunci; sehat, bahagia, dan mabrur. Sehat menyangkut tubuh dan jiwa, bahagia terkait dengan pikiran, dan mabrur sebagai kesempurnaan spiritual.

"Mabrur adalah kesempurnaan spiritual dari pelaksanaan ritual paling tinggi, yakni ibadah haji sebagai Rukun Islam ke-5," imbuhnya.

Jika ibadah haji adalah ritual, kata Ahmad Yani, mabrur adalah spiritual. Haji adalah proses, mabrur adalah hasil.

"Jadi, mabrur yang berarti diterimanya ibadah haji seorang hamba, juga bisa dilihat dari hasil yang didapat seorang jemaah usai berhaji. Jika setelah haji akhlak terpuji semisal sabar, sopan, ramah, penuh kasih sayang, atau jujur, berarti mabrur bisa dicapai," tambahnya.

Nah, perjalanan ke Makkah hari ini pun jelas Ahmad Yani adalah bagian dari proses menuju mabrur. Di Makkah, berbagai ritual haji akan dilakukan. Ritual-ritual itu membutuhkan kemampuan fisik, materi, ilmu, hingga mental.

"Pelayanan kami selama perjalanan sebulan ini selalu fokus ke hal-hal itu, agar para jemaah benar-benar mampu menjalani ritual menuju haji mabrur," ungkap Ahmad Yani.

"Mabrur merupakan puncak dari nilai spiritual dalam Islam," tambahnya lagi.

Jemaah haji khusus Tazkiyah berada sekitar sembilan hari di Madinah sebelum beranjak ke Makkah. Mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan ibadah Arbain, yaitu salat 40 waktu berturut-turut di belakang imam rawatib Masjid Nabawi.

Pengalaman spiritual jemaah juga makin lengkap dengan keberhasilan masuk ke Raodah atau Raudhoh, bagian di dalam Masjid Nabawi yang disebut Nabi Muhammad sebagai taman-taman surga, tempat mustajab untuk berdoa.

Sebelum berangkat ke Makkah sore waktu Saudi, sejumlah jemaah Tazkiyah kembali berkunjung ke makam Rasulullah, untuk pamit. Haeruddin, salah satu di antaranya, tak kuasa menahan haru. Air matanya tumpah begitu melintasi makam Nabi Muhammad.

Perasaan seperti itu jamak dialami jemaah haji dan umrah, terutama ketika sudah harus pulang ke tanah air atau hendak bertolak ke Makkah. Sebab, tidak mudah untuk bisa ke Madinah, "bertemu" Rasulullah, berharap syafaatnya kelak. Momen-momen seperti itu juga yang membuat hampir setiap jemaah selalu rindu untuk kembali.