Leadership in Practice: Apa Kata Asmawi Syam

Leadership in Practice: Apa Kata Asmawi Syam

HZ
M Dahlan Abubakar
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow
JUDUL tulisan ini merupakan tajuk buku hasil kolaborasi Asmawi Syam, seorang yang berkarier 37 tahun sebagai bankir profesional dan Rhenald Kasali, guru besar dan pakar manajemen Indonesia yang diluncurkan di Hotel JS Luwansa Jakarta, 8 Oktober 2019. Buku ini merupakan karya pertama di Indonesia yang memadukan pengalaman praktik seorang bankir yang berkarier dari awal hingga mencapai Chief Executive Officer (CEO) dengan seorang teoretisi di bidang manajemen. Saya beruntung menjadi salah seorang yang diundang hadir dalam peluncuran buku setebal 338 halaman yang dihadiri M.Jusuf Kalla (JK), Wakil Presiden RI (2014-2019) tersebut. Undangan yang hadir kebanyakan para bankir dan juga teman permainan golf Asmawi Syam, antara lain Prof.Dr.Komaruddin Hidayat dan Direktur Utama PT Taspen M.Iqbal Latanro. Buku ini terdiri atas 35 bab yang dihimpun ke dalam 8 pumpunan bab, yang terdiri atas; SPORTIVE LEADERSHIP, INTEGRITY, DETERMINATION,ROYALTY AND RESPONSIBILITY, TRANSFORMER, VISIONARY, CREATIVITY, dan PROBLEM SOLVER, Pumpunan bab ini sengaja menggunakan bahasa Inggris, selain karena judul buku dalam bahasa Inggris, juga ditilik dari segi ekonomi kata. Bahasa Indonesia sering harus diwakili oleh lebih dari dua atau tiga kata dalam menerjemahkan satu kata dari bahasa Inggris agar dapat dipahami dengan jelas makna atau pengertiannya. Mungkin ada pertanyaan, bagaimana pembaca dapat membedakan produk pemikiran dan pengalaman Asmawi Syam dengan sentuhan teoretis dari seorang Rhenald Kasali di dalam buku ini. Pembaca akan mudah merujuknya karena penata letak buku yang diterbitkan Balai Pustaka tersebut memberi warna pembeda antara produk kedua penulisnya. Rentetan pengalaman Asmawi dicetak sesuai warna asli kertas book paper (kertas ringan kualitas impor) yang digunakan mencetak buku tersebut. Sementara buah pemikiran Rhenald Kasali diberi warna pembeda kuning muda pada isi buku. Petanda pembeda seperti ini tentu saja akan memudahkan pembaca menemukenali pemikiran keduanya secara jernih dan utuh. Oleh sebab itu, dalam catatan singkat yang saya sampaikan ke Asmawi Syam sebelum acara peluncuran, karya ini merupakan buku pertama di Indonesia yang memadukan secara apik antara pengalaman praktik seorang bankir profesional dengan uraian teoretis seorang pakar manajemen. Visionary Leadership Saya akan menukilkan secuil dari pumpunan bab di dalam buku ini di halaman 225, Visionary Leadership, kepemimpinan yang visioner. Pada pumpunan bab ini berkisah tentang BRIsat, banking satelite pertama di dunia. Asmawi mendeskripsi suasana perasaannya menjelang peluncuran satelit di Kourou, Guyana, Perancis 18 Juni 2016 sebelum acara buka puasa 12 Ramadan, sementara di Indonesia Ramadan sudah masuk pada hari ke-13. Gambaran perasaan Asmawi ini saya tinggalkan, tetapi ingin mengungkapkan visinya hingga memutuskan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang dipimpinnya harus memiliki satelit sendiri. Baru tahun kedua (2016), menjabat Direktur Utama BRI, dia menelurkan latar belakang visi dan misinya tentang pengadaan satelit. Ketika berlangsung acara buka puasa bersama Pengurus Ikatan Alumni (IKA) Unhas tahun 2017 di Istana Wakil Presiden, saya juga hadir setelah mewawancarai Asmawi sembari dia bermain golf dengan Pak JK dan Hamdan Zoelva di padang Golf Senayan. Ketika diberi kesempatan berbicara oleh Pak JK, Asmawi mengisahkan kembali perihal pemikirannya mengenai pengadaan satelit yang belum pernah dilakukan oleh bank mana pun di muka jagat ini. “Saya berpikir, setiap tahun saya harus mengeluarkan dana jika dikumpulkan selama enam tahun, biaya yang dikeluarkan sudah sama dengan harga sebuah satelit. Setelah itu, saya pun bisa menyewakan satelit tersebut kepada user (pemakai). Ini pemikiran sederhananya,” kira-kira seperti itu cerita singkat Asmawi. Pemikiran praktis dalam hitungan kali-kali Asmawi mengenai satelit ini, saya yakin benar lahir setelah berkonsultasi dengan “suhu”-nya, yang tidak lain adalah Pak JK. Dan, hadirnya BRIsat yang mengorbit pada 150,5 derajat Bujur Timur, tepat di atas langit Papua itu, memungkinkan bank tertua di Indonesia ini menjangkau layanan lebih dari 10.600 cabang, 236.939 outlet elektronik dan hampir 60 juta nasabah BRI di seluruh Indonesia. (hlm.229). Pengalaman Asmawi ini kemudian ditingkahi oleh Rhenald Kasali dengan memberi contoh pemikiran visioner Steve Jobs, pendiri Apple. San Fransisco 9 Januari 2007 dunia teknologi dibuat terhenyak, saat Steve Jobs memperkenalkan Apple iPhone, sebuah produk teknologi yang sangat revolusioner. Bagaimana tidak, inilah produk telepon pertama yang merebut begitu banyak fungsi sekaligus terkoneksi ke internet, mengunduh lagu dan video, menerima e-mail, bahkan membuka maps. Tampilannya sangat futuristik dilengkapi navigasi touch screen (layar sentuh). Para pakar teknologi mengatakan, iPhone termasuk pemantik utama digital movement di dunia. Memanfaatkan smartphone (telepon pintar) kini semua bisa diakses cukup dengan ketukan ujung jari. Memesan makanan, membeli tiket pesawat/bisokop, memesan hotel, membayar tagihan telepon/listrik, membeli pulsa, bahkan mentransfer uang melalui rekening bank. Gelombang digitalisasi menyebar pesat ke berbagai sektor, termasuk perbankan. Layanan mobile banking atau pun e-banking kian digandrungi para nasabah tanpa perlu berpayah-payah antre di depan loket. Hanya cukup dari tempat tidur. Begitulah secuil kisah kolaborasi yang tergambar di dalam Leadership in Practice: Apa Kata Asmawi Syam ini. Selamat membaca jika sudah menemukannya di toko buku.