Terkini.id, Jakarta - Kok masih sepi? Duh, orang kaya Jakarta diduga masih takut ke mal! Kendati PPKM Level 4 di DKI Jakarta sudah diturunkan levelnya pada Level 3, namun di mana-mana terlihat sepi, khususnya tingkat kunjungan ke mal.
Sejatinya, beberapa wilayah aglomerasi memang telah mengalami penurunan tingkat level PPKM-nya, misalnya adanya pelonggaran kapasitas kunjungan pusat perbelanjaan menjadi 50 persen dari sebelumnya 25 persen.
Kendati demikian, yang terjadi di lapangan kondisi mal masih sepi sebab tidak banyak pengunjung yang keluar dari rumah.
Menurut pengelola mal, saat ini kapasitas pengunjung masih 20 persen dari batas maksimum yang diizinkan hingga 50 persen.
“Pusat perbelanjaan menyambut baik pelonggaran yang dilakukan pemerintah. Meski kapasitas saat ini (kapasitas 50 persen), pusat perbelanjaan masih akan mengalami defisit dari kapasitas maksimal itu sebab tidak bisa menutupi biaya operasional,” beber Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja kepada wartawan, Selasa 24 Agustus 2021.
Seperti dilansir CNBCIndonesia, Selasa 24 Agustus 2021, Alphonzus mengapresiasi pelonggaran yang dilakukan pemerintah.
Dari pelonggaran ini, sebutnya, dapat menolong sektor usaha non formal berskala mikro dan kecil seperti hunian indekos, warung, ojek, parker, dan lainnya yang berada di sekitar pusat perbelanjaan yang sudah delapan minggu tidak dapat mencari nafkah karena mal tutup.
Untuk itu, Alphonzus berharap pemerintah terus memastikan ketersediaan vaksin, juga memberi kemudahan akses bagi masyarakat. Sehingga, menurutnya, pandemi dapat terkendali sehingga pelonggaran dapat terus dilakukan.
“Protokol kesehatan juga akan terus dilakukan di mal, terutama skrining melalui aplikasi PeduliLindungi. Sehingga, penanganan dini bisa dilakukan dan mencegah penularan Covid-19 semakin meluas,” imbuhnya.
Menurut Alphonzus, tingkat kunjungan pusat perbelanjaan juga sudah bergerak naik secara bertahap. Rata-rata, kunjungan mal saat ini berkisar 15 persen hingga 20 persen. Namun, jumlah tersebut memang masih relatif sepi.
“Peningkatan kunjungan lebih dikarenakan restoran dan kafe sudah diperbolehkan untuk melayani makan di tempat (dine-in),” ungkapnya.
Berdasarkan catatan tingkat kunjungan, Alphonzus mengatakan sudah lebih baik dibandingkan pada masa awal pandemi sebelumnya. Pasalnya, tidak dibutuhkan waktu kurang tiga bulan untuk mencapai tingkat kunjungan 10 persen hingga 20 persen setelah pembatasan dan pelarangan.
"Namun, dampak penutupan operasional tidak sertamerta berakhir pada saat pembatasan diakhiri,” imbuhnya.










