Ketahanan Jurnalis dan Menguatnya Otoritarianisme: Refleksi 30 Tahun AJI

Ketahanan Jurnalis dan Menguatnya Otoritarianisme: Refleksi 30 Tahun AJI

K
Kamsah

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

"Dalam kondisi seperti ini, resiliensi dan profesionalisme jurnalis sangat dibutuhkan," ujar Nani, menegaskan pentingnya menjaga standar tinggi dalam praktik jurnalisme.

Solidaritas juga menjadi tema kuat dalam perayaan ini, dengan Nani menyerukan perhatian dunia terhadap para jurnalis yang tewas di Palestina. Sejak Israel memulai kampanye militer di wilayah tersebut, lebih dari 100 jurnalis telah kehilangan nyawa mereka.

"Ini adalah tragedi kemanusiaan yang harus mendapat perhatian serius," katanya.

Dalam acara yang sama, ahli hukum Bivitri Susanti menyampaikan pidato kebudayaan yang menyoroti pentingnya perjuangan kolektif dalam mempertahankan demokrasi.

Bivitri menekankan bahwa jurnalis, aktivis, dan akademisi merupakan pilar-pilar utama yang mendukung demokrasi, meski mereka kerap menjadi sasaran kekerasan di tengah menurunnya kualitas demokrasi.

"Jurnalis dengan kerja investigatifnya memiliki peran penting dalam menjaga transparansi, terutama di saat informasi menjadi semakin sulit diakses dalam rezim yang tidak demokratis," ujar Bivitri, menyiratkan betapa vitalnya peran jurnalis dalam konteks demokrasi.

Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu, turut menyampaikan pandangannya tentang tantangan yang dihadapi oleh pers di era digital.

Menurutnya, produk-produk digital di media sosial yang seringkali menawarkan "kebenaran" palsu menjadi tantangan besar bagi jurnalis.

Namun, Ninik menegaskan bahwa kehadiran jurnalis masih sangat diperlukan karena mereka memiliki kemampuan analisis yang mendalam, sesuatu yang tidak dimiliki oleh para influencer dan youtuber.

Di akhir acara, AJI mengumumkan sejumlah penghargaan, termasuk Udin Award yang diberikan kepada podcast "Bocor Alus" dari Tempo, yang dinilai berani mengangkat isu-isu sensitif yang penting bagi publik.