Kapolri Didesak Copot Kapolda Jawa Timur, Imbas Tragedi Kanjuruhan

Kapolri Didesak Copot Kapolda Jawa Timur, Imbas Tragedi Kanjuruhan

FD
Fachri Djaman

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Peneliti Institute for Security and Strategis Studies (ISESS) Bambang Rukminto mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencopot Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nico Afinta dan Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat imbas dari tragedi Kanjuruhan, Minggu 2 Oktober 2022.

Desakan kepada Kapolri untuk mencopot Kapolda Jawa Timur itu disampaikan Bambang Rukminto lantaran tragedi Kanjuruhan tersebut telah menewaskan ratusan suporter akibat tindakan polisi menembakkan gas air mata ke arah penonton laga Arema FC vs Persebaya.

Menurut Bambang, harusnya aparat yang mengamankan laga Arema vs Persebaya saat tragedi itu terjadi bisa lebih bertindak secara presisi dan responsible sehingga bisa preven pada kedaruratan.

Namun, kata Bambang, tindakan aparat yang menembakkan gas air mata ke arah suporter baik yang terlibat kerusuhan di lapangan maupun yang berada di tribun penonton telah membuat massa panik hingga berdesak-desakan di pintu keluar Stadion Kanjuruhan.

"Tragedi ini jelas menunjukkan polisi tidak bisa melakukan prediksi dan pencegahan bila terjadi kerusuhan di dalam stadion. Sehingga yang terjadi, korban akibat desak-desakan di pintu yang sempit karena kepanikan suporter," ujar Bambang kepada awak media pada Minggu 2 Oktober 2022.

Oleh karena itu, Bambang mendesak Kapolri segera mencopot Kapolda Jawa Timur dan Kapolda Malang yang merupakan penanggung jawab keamanan di Stadion Kanjuruhan.

Selain itu, pihaknya juga menilai Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta sama sekali tak memiliki empati terhadap korban tragedi tersebut namun malah menyalahkan suporter.

"Kemudian, berdasarkan pernyataan Kapolda Jawa Timur, tidak memiliki empati terhadap para korban sehingga menyalahkan suporter. Jadi, Kapolri harus mencopot beliau (Kapolda Jatim dan Kapolres Malang). ISESS juga menuntut Kapolri untuk mengusut tragedi ini," tegas Bambang.

Sebagai informasi, hingga Minggu hari ini korban tewas akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan itu tercatat sebanyak 174 orang.

Tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur itu bermula saat tim tuan rumah Arema FC kalah dari Persebaya dengan skor 2-3.

Tak terima timnya kalah, suporter Arema pun berhamburan memasuki lapangan. Insiden itu kemudian direspons polisi dengan menembakkan gas air mata.

Tembakan gas air mata tersebut tidak hanya ditembakkan aparat ke suporter di lapangan melainkan juga ke arah tribun penonton.

Akibatnya, massa penonton panik dan berlarian hingga berdesakan menuju pintu keluar stadion. Alhasil, para suporter pun sesak nafas hingga terinjak-injak akibat penumpukan massa.