Terkini.id, Jakarta – Politisi Partai Demokrat, Yan Harahap menyinggung bahwa Indosat dijual dan Garuda Indonesia terancam bangkrut di saat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP berkuasa.
Yan Harahap pun menyentil Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto terkait dua permasalahan ini.
Ia mengatakan, sejarah mencatat bahwa Indosat dijual saat Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputi menjabat sebagai presiden.
“Sejarah mencatat, Indosat dijual di era Megawati, saat PDIP berkuasa,” katanya melalui akun Twitter @YanHarap pada Rabu, 27 Oktober 2021.
Jika Garuda Indonesia harus ditutup karena bangkrut, lanjut Yan Harapap, maka sejarah juga akan mencatat bahwa Maskapai kebanggaan negeri ini bangkrut di era Jokowi.
“Juga saat PDIP berkuasa. Camkan itu Hasto!” tegasnya.
Sebagaimana diketahui, Indosat dijual di Pemerintahan Megawati Soekarnoputri pada tahun 2002.
Tentunya, keputusan itu menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan.
Salah satu yang mengkritik keputusan ini adalah mantan Direktorat Jenderal Pajak era Presiden Megawati, Fuad Bawazier.
Fuad pernah menyampaikan bahwa menjual Indosat adalah langkah yang keliru sebab pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu membaik dan tidak dalam kondisi krisis yang mengharuskan dijualnya Indosat untuk menutup APBN.
Akibat penjualan ini, menurut Fuad, negara rugi berkali lipat, bahkan sampai saat kini.
“Sangat merugikan. Bukan hanya satelit, harga diri bangsa, penerimaan pajak, dan dividen melorot,” katanya pada Kamis, 26 Juni 2014, dilansir dari Tempo.
Namun, ada juga pihak yang menilai bahwa Keputusan Pemerintahan Megawati menjual saham Indosat langkah yang tepat
Pengamat Ekonomi dari Unisulla Semarang, Yudi Budiman menilai bahwa penjualan saham Indosat harus dilakukan pada tahun 2002 karena keadaan ekonomi saat itu sangat krisis.
“Pada saat itu belum lama kita krisis yang sangat hebat sekali ketika tahun 1998 pergantian rezim. Lalu kemudian Megawati tahun 2002 selang sekitar 4 tahun saya kira, recovery ekonomi itu belum terlalu mantap. Jadi kita harus pahami bahwa saya kira penjualan (Indosat) itu, hanya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih besar,” katanya pada Jumat, 22 Maret 2019, dilansir dari Tagar News.
Adapun PT Garuda Indonesia (Persero) saat ini sedang mengalami krisis dan bahkan disebut-sebut terancam bangkrut.
Dilansir dari Kompas, maskapai pelat merah itu diketahui memiliki utang mencapai Rp70 triliun dan diperkirakan terus bertambah Rp1 triliun setiap bulannya.
Berdasarkan data Kementerian BUMN, beban biaya Garuda Indonesia mencapai 150 juta dollar AS per bulan, namun pendapatan yang dimiliki hanya 50 juta dollar AS.
Itu artinya perusahaan merugi 100 juta dollar AS atau sekitar 1,43 triliun (kurs Rp 14.300 per dollar AS) setiap bulannya.










