Honor Pelaku Ekraf Belum Dibayarkan Pemprov Sulsel, Gabungan Admin Se-Sulsel Mengeluh

Honor Pelaku Ekraf Belum Dibayarkan Pemprov Sulsel, Gabungan Admin Se-Sulsel Mengeluh

HZ
Isak Pasabuan
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Makassar - Pelaku ekonomi kreatif mengaku belum mendapat pembayaran honor dari Pemprov Sulsel, yang sedianya disalurkan melalui Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD).

Pelaku Ekraf khususnya admin media sosial yang tergabung dalam Gabungan Admin Sulawesi Selatan (GASS) pun mengeluh, setelah selama ini menjadi mitra pemerintah provinsi Sulsel.

Diketahui, anggaran yang dialokasikan Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulsel untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional di sektor industri pariwisata dan ekonomi kreatif Sulsel yang belum juga dicairkan.

Sudah 9 bulan, administrasi belum diselesaikan pimpinan Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulsel.

Arfah Aksa yang juga Ketua Gabungan Admin Sulawesi Selatan (GASS) menyesalkan lemahnya dukungan Pemerintah Provinsi Sulsel dalam membuka ruang kreatifitas pelaku ekonomi kreatif seperti desain grafis, konten kreator, produser film, komposer lagu dan pengelola admin-admin sosial media.

"Kolaborasi saat ini sangat penting guna mempercepat pemulihan ekonomi, tapi saya lihat ini menjadi hal yang terlupakan padahal industri kreatif ini sebenarnya adalah tulang punggung ekonomi, kok malah kurang diberi ruang," keluhnya.

Kegiatan para pelaku ekonomi kreatif ini, lanjut Arfah telah diakomodir dalam program kerja Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sulawesi Selatan yang selama ini menjadi lokomotif ruang berekspresi dan berkarya pelaku ekonomi kreatif daerah.

"Kami lihat perhatian Dinas Pariwisata Sulsel minim. Buktinya anggaran kegiatan badan promosi daerah sampai sekarang belum diakomodir. Ruang berkarya kami betul-betul telah dimatikan," keluhnya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah meminta sejumlah provinsi memberikan ruang berekspresi bagi pelaku ekraf, dia menyayangkan perhatian Pemerintah Provinsi Sulsel justru menutup ruang yang bisa menggerakkan pelaku jasa lokal.

"Kalau ruang berekpresi kami betul-betul tertutup. Ini bukan pemulihan ekonomi lagi. Tapi pembunuhan ruang kreatifitas kami," tegasnya.

Selain keluhan perwakilan dari unsur komunitas khususnya pelakau ekraf Sulsel, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) juga telah mengkritik kebijakan refocusing anggaran Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan yang akan menghapus belanja media.

"Kami kecewa dengan Pemprov Sulsel yang tak lagi memandang industri media sebagai hal penting. Belanja media masih dianggap sebelah mata. Ini yang keliru," kata Herwin beberapa waktu yang lalu.

Herwin yang telah mengantongi sertifikasi profesi dari Dewan Pers ini menyesalkan kecilnya perhatian pemerintah provinsi terhadap keberlangsungan bisnis industri media lokal di Sulsel.

"Saya juga heran. Pemprov Sulsel yang seharusnya menjadi pilar terdepan mendorong Pemulihan EkonomI Nasional (PEN). Justru mengorbankan pelaku industri hanya untuk kepentingan program yang tidak jelas," sesalnya.

Dia berharap pimpinan di lingkungan pemerintah provinsi tidak hanya memperhatikan pelaku industri skala besar saja.

"Industri media itu salah satu penggerak UMKM di Sulsel. Pemprov harus sadar dengan kehadiran kami. Pencitraan daerah ada di sektor media. Bisnis kami jangan dimatikan," kata dia.