Terkini.id, Jakarta – Debora Dewi, Grafolog memberikan analisis terkait surat wasiat yang ditinggalkan oleh terduga teroris ZA, pelaku penyerang Markas Besar Polri di Jakarta.
Debora menilai bahwa di dalam surat wasiat ZA tercermin banyak kegelisahan dan kecemasan. Hal itu dapat dilihat dari kesalahan ejaan, coretan-coretan, dan lain-lain.
“Untuk itulah di sampel yang pelaku eksekutor teror bom Jakarta, itu saya juga temukan banyak kegelisahan dan kecemasan seperti ada kesalahan ejaan kata, kemudian coretan-coretan, kemudian ada pengulangan-pengulangan coretan huruf,” jelas Debora dalam wawancara yang diunggah kanal YouTube tvOneNews pada Jumat, 2 April 2021.
Lebih lanjut, Debora mengatakan bahwa kecemasan itu bisa jadi ditimbulkan dua hal, yakin rasa takut saat akan melakukan aksi atau karena konflik batin.
“Jadi itu adalah tanda kecemasan, bisa karena memang yang bersangkutan diliputi rasa takut yang hebat ketika akan mengeksekusi atau bisa jadi yang bersangkutan mengalami konflik batin ketika apa yang dituliskan itu bertolak belakang dengan apa sebenarnya dia rasakan,” jelasnya.
Debora juga menilai bahwa ZA terlihat memiliki tekanan yang lebih besar dibanding pelaku bom bunuh diri Makassar saat menuliskan surat.
“Ketika surat ini dibuat, yang lebih tertekan adalah pelaku di Jakarta. Tetapi, kalau melihat motivasi internal dari kedua pelaku, dua-duanya sama-sama frustrasi, hanya beda pendorong saja. Yang satu frustrasi karena kemarahan, yang satu frustrasi karena rasa takut,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Debora menilai bahwa motivasi kemarahan dalam diri ZA muncul dari kemarahan atas status sosial.
“Kalau di pelaku yang di Jakarta, yang menonjol itu kan kemarahan dia atas status sosial, bukan material, bukan spiritual. Tapi dia marah karena merasa dirinya tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana yang dia harapkan,” ujarnya.
Selanjutnya, Debora memberikan komentar aras asumsi-asumsi yang beredar terkait surat wasiat ZA dan juga pelaku bom bunuh diri Gereja Katedral Makassar.
Seperti diketahui, muncul beberapa asumsi bahwa kedua surat memiliki kesamaan, dituliskan oleh orang yang sama, atau didikte orang yang sama.
Terkait hal itu, Debora membantah bahwa kedua pelaku didikte oleh seseorang. Hal ini ia nilai dari pola tulisan dari surat wasiat kedua pelaku.
“Karena begini, Mbak, sampel tulisan tangan yang dibuat ketika seseorang itu didikte atau ketika seorang itu menyalin, itu pasti ada pattern yang rusak dari spacing-nya. Nah pattern yang rusak ini tidak saya temukan di keduanya. Jadi, dua-duanya memang membuat tulisan tangan ini dalam sekali jalan, dalam sekali tulis, dan bahkan penuh emosional juga,” jelasnya.










