Terkini.id, Makassar - Sebagai salah satu lembaga swadaya masyarakat di Provinsi Sulawesi Barat, Yayasan Karampuang terus melakukan pembenahan pada pelbagai sektor. Mulai dari Isu pendidikan, kesehatan, dan pengembangan kapasitas masyarakat.
Direktur Yayasan Karampuang Ija Syahruni mengatakan pihaknya konsisten mengembangkan proses dengan desain program. Salah satunya, menyiapkan data berbasis komunitas untuk melakukan advokasi pembangunan.
"Sudah ada basis data sehingga lebih mudah mengintervensi," kata Ija, Rabu, 20 Oktober 2021.
Pada sektor pendidikan, Ija menuturkan sejumlah permasalahan yang terjadi Sulawesi Barat, antara lain, pekerja anak yang tinggi, akses terbatas lantaran posisi sekolah berada di daerah gunung.
Belum lagi, kata dia, ada banyak bangunan yang rusak pascagempa. Masalah lain jaringan belum sampai di banyak titik dan tidak semua anak memiliki handphone untuk mengakses pembelajaran jarak jauh.
Sulbar, kata dia, mengalami 2 bencana sekaligus yakni gempa dan Covid-19. Sehingga, kata dia, tantangannya pun jadi berlipat ganda.
"Kami memiliki beberapa program, salah satunya gerakan kembali ke sekolah. Kita mendata anak-anak yang berada di luar sekolah, bisa sudah lulus tapi tidak lanjut, bisa juga karena berhenti sekolah. Kita gali apa masalahnya," ujar Ija.
Yayasan Karampuang pun membangun komunikasi dengan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari dinas pendidikan terkait hingga tokoh setempat.
"Gerakan kembali bersekolah kita sudah mulai sejka 2010 sampai sekarang, kita advokasi ke pemerintah supaya jadi prioritas, sudah menyusun dokumen anak tidak sekolah. Di situ tertuang bagaimana menangani anak yang tidak sekolah agar kembali ke sekolah," paparnya.
Pada tahun 2016, gerakan kembali bersekolah sebanyak 3.376 siswa yang diselenggarakan di Anjungan Pantai Manakarra Mamuju memecahkan rekor MURI dengan kategori pengembalian siswa bersekolah yang terbanyak sepanjang sejarah.
"Saat ini sudah sekitar 10.000 anak sudah dikembalikan ke sekolah. Sekarang sudah jadi gerakan di desa, sudah mandiri, ada regulasi," kata dia.
"Ada desa yang menganggarkan soal uang transportasi, sudah jalan, sudah berada dalam level desa," sambungnya kemudian.
Di awal pandemi Covid-19, Ija menyatakan telah mendistribusikan perlengkapan sekolah sebanyak 200 paket distribusikan.
"Kita disupport juga paket sembako yang terdampak Covid-19 dan bencana dari mitra kami Mubadala Petroleum Indonesia," kata Ija.
Pada sektor ekonomi, Ija mengatakan pihaknya berupaya mengembangkan sesuai potensi lokal. Saat ini sudah mendampingi 4 desa di Mamuju dan 2 di Majene.
"Melatih mereka sesuai dengan potensi dan kita dukung dengan dana usaha. Kita latih dan melakukan assessment pada kelompok rentan, khususnya disabilitas," sebutnya.
Dewan pembina dan Pendiri Yayasan Karampuang, Aditiya Yudistira mengatakan selain soal bantuan dan support Yayasan, anak anak dan remaja juga diajak ikut trauma healing pascagempa.
Mereka diajak untuk aktif berkegiatan. Salah satunya itu aksi bersih-bersih.
"Pascagempa kan banyak bantuan, misal makanan instan seperti mie, nah banyak yang tidak bertanggung jawab akan sampahnya. Ini yang coba kami kerjakan dengan remaja," ucapnya.
Sehingga mereka menyibukkan diri sekaligus kepekaan sosialnya terhadap lingkungan tetap dilatih.










