Terkini.id, Jakarta – Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti turut memberikan komentar beredarnya sebuah informasi kerangkeng manusia di rumah Bupati Langkat yang diduga merupakan perbudakan manusia.
Beredarnya informasi tersebut, melalui cuitan di media sosial akun twitternya @susipudjiastuti mengungkapkan tentang perbudakan manusia yang tiba ditoleransi.
Dia menyebut perbudakan manusia hal yang tidak bisa ditoleransi, ia khawatir hal ini bukan satu-satunya yang terjadi di indonesia.
“Perbudakan modern adalah hal yg tidak bisa lagi kita tolerir, saya khawatir ini bukan satu-satunya tempat seperti ini. Keji& tidak berperikemanusiaan. Bupati langkat punya penjara diduga untuk perbudak puluhan pekerja sawit,” tulis akun @susipudjiastuti. Dilansir dari Galamedia. Rabu, 26 Januari 2022.
Selain Susi Pudjiastuti, hal itu juga mengundang rasa kesal netizen yang meminta agar kasus tersebut segera diusut.
“Manusia berjiwa iblis kok bisa jadi bupati ! Manusia biadab!,” tulis @leem1neral.
“Baru jd bupati udh kek gini kelakukannya mirip londo ireng !,” tulis @ad3ira29.
Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupasi (KPK) mengamankan Bupati Langkah terkait dugaan suap pengadaan barang jasa tahun 2020-2022.
Bupati langkat ditetapkan sebagai tersangka bersama saudara kandungnya sendiri yang menjabat Kepala Desa Balai Kasih yakni Iskandar PA serta empat pihak swasta lainnya.
Hal tersebut berawal dari laporan masyarakat setempat yang menyebut ada aktivitas pemberian uang kepada penyelenggara negara.
Menyusul hal tersebut, rupanya ada yang lebih mengejutkan. Di Rumah Bupati Langkat ditemukan penjara yang diduga digunakan untuk melakukan perbudakan.
Dugaan tersebut dijelaskan oleh perhimpunan untuk Buruh Migran Berdaulat yakni migrant care yang menerima laporan adanya kerangkeng manusia yang mirip dengan penjara di dalam rumah bupati langkat.
“Kerangkeng penjara itu digunakan untuk menampung pekerja mereka setelah mereka bekerja. Dijadikan kerangkeng untuk para pekerja sawit di ladangnya,” ujar Ketua Migrant Care, Anis Hidayah, Senin 24 Januari 2022.
Terdapat dua sel yang digunakan untuk mengurung 40 orang pekerja setelah mereka bekerja. Namun pihak Migrant Care menyebut kemungkinan jumlah pekerjanya lebih banyak.










