Terkini.id, Jakarta - Perseteruan Partai Demokrat tak kunjung selesai, apalagi setelah diselenggarakannya Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Jumat 5 Maret 2021.
Melalui acara TV Apa Kabar Indonesia Pagi, dua pihak kembali hadir saling melontarkan klaim dalam pembahasan polemik dualisme Partai Demokrat.
Kedua pihak tersebut diwakili oleh Wakil Ketua Umum Demokrat Max Sopacua yang pro terhadap KLB di Sibolangit. Sedangkan, yang kontra ada Sekretaris Majelis Tinggi Demokrat, Andi Mallarangeng.
Dalam acara tersebut, Max Sopacua mengaku bahwa KLB itu menggunakan AD/ART Partai Demokrat tahun 2005, hal ini dirasa karena lebih demokratis dibandingkan AD/ART 2020.
Max juga menanggapi perihal kabar KLB tersebut dikatakan KLB bodong dan tidak sah.
"Itu versinya Pak Andi Mallarangeng ya. Itu karena sebuah kegalauan saja yang terjadi di Andi dan teman-teman," ujar Max dikutip VIVA pada Senin, 8 Maret 2021.
Max dalam kesempatan yang sama juga membanggakan KLB tersebut terlaksankan dalam waktu yang singkat yang dimana hal ini bertolak belakang dengan prediksi kubu yang kontra bahwa KLB tak mungkin terealisasi.
"Apapun yang terjadi kami susah selesai menggelar kongres dan terpilih ketua umum yang baru. Tinggal menerima atau tidak, ya kalau tidak menerima kita ke pengadilan atau PTUN," simpul Max.
Setelah mendapatkan giliran untuk berbicara, Andi Mallarangeng hanya mengajukan satu pertanyaan kepada Max.
"Boleh nggak tanya, boleh nggak tanya? Sebutkan satu nama saja ketua DPD yang hadir. Satu saja ketua DPD yang hadir?" tanya Andi.
Max tampak terdiam sebentar lalu menanggapi pertanyaan tersebut.
"Saya bukan urusan untuk pendaftaran," jawab Max.
Dengan tertawa keras, Andi Mallarangeng mengejek Max yang tak bisa menjawab pertanyaannya.
"Hahaha, nggak bisa nyebut, hahaha," ujar Andi.
"Andi Mallarangeng boleh datang, ngecek, dan lain-lain," imbuh Max.
"Ya sebutkan satu nama dari 34 DPD," tanya Andi lagi dengan seraya tertawa.
"Anda nggak usah banyak ngomong. Kami sudah selesai kongres. Anda tidak terima, ya kita di lembaga hukum, kita berhadapan," ujar Max.
"Itu abal-abal," ejek Andi dengan tertawa lagi.
"Anda mau bilang abal-abal, mau bilang kudeta pengkhianat, kudeta siapa, pengkhianat siapa. Silakan," ujar Max terlihat mulai kesal.
"Kami tetap dalam posisi kami sudah menyelenggarakan KLB dengan sukses dengan menghasilkan ketua umum yang baru. Dan, tidak bisa digugat oleh Anda. Kecuali pengadilan yang menggugat," lanjut Max.
Untuk kesekian kali, Andi meminta agar Max menjawab pertanyaannya soal peserta di KLB.
"Nah, kan nggak bisa menyebutkan. Saya cuma minta satu dari 34 DPD seluruh Indonesia. Tolong sebut, satu nama saja satu Ketua DPD yang hadir di KLB yang abal-abal itu," jawab Andi.
Dengan agak kesal, Max bertanya balik. "Kenapa saya harus mengikuti Anda?" tanya Max.
"Itu kan pemilik suara," jawab Andi.
"Sorry, sorry. Saya tidak perlu mengikuti yang Anda mau, Kirimkan orang-orang Anda ke panitia untuk mengecek siapa yang hadir," kata Max.
Andi mengatakan dengan mendapatkan jawaban dari Max Sopacua agar publik bisa tahu, siapa saja pemilik suara yang hadir dalam kongres tersebut.
"Biar publik melihat orang-orang yang hadir di situ pemilik suara," jelas Andi lagi.










