Begini Kehidupan Herman Kumis Sebelum Lolos Audisi KDI 2019

Begini Kehidupan Herman Kumis Sebelum Lolos Audisi KDI 2019

Syarief
Redaksi

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Terkini.id, Jeneponto - Suherman (23 tahun), anak tukang ojek yang berhasil lolos Kontes Dangdut Indonesia (KDI) 2019. Herman mendapatkan tiket ke Jakarta saat audisi pencarian penyanyi dangdut di Menara Pinisi Universitas Negeri Makassar. Suherman yang biasa disapa Herman Kumis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Buah hati pasangan Haeruddin dan almarhum Sinao. Dia ditinggal ibunya saat kelas 1 Madrasah Aliyah Pesantren Mannilingi Palajau. "Kata dokter ibu saya meninggal karena infeksi kandungan," tutur Herman kepada Terkini.id, Selasa 25 Juni 2019. Herman tak mampu menahan air matanya saat menuturkan kisah ibunya meninggal di Rumah Sakit Lanto Daeng Pasewang beberapa tahun lalu. Hari itu Herman disuruh pulang ke rumah mengambil air hangat dan tikar. Kembali ke rumah sakit, dia melihat pamannya mengendarai motor sangat kencang. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Herman melewati sebuah tanjakan. Tiba-tiba termos air yang dibawa meletus. “Saya sempat berpikir ada apa ini,” katanya. Begitu Herman masuk dalam ruangan, Herman melihat jenasah yang terbalut tikar. “Saya tidak tahu bahwa itu ibu saya. Saya baru tahu saat dipeluk oleh keluarga dan memberi tahu bahwa jenasah itu ibu," tutur Suherman sambil tertunduk membasuh air matanya. Setelah kematian ibunya, Herman membantu ayahnya mencari uang. Keliling menjual perabot rumah tangga dan alat-alat dapur. Memakai sepeda motor. "Saya keliling jual kompor gas sampai keluar daerah tanpa sepeser pun uang. Tapi demi hidup untuk membantu orang tua, saya tidak malu dengan pekerjaan apapun yang menghasilkan uang halal," ungkapnya. Suherman juga menjadi guru mengaji dan kadang jadi imam di Masjid Fathul Huda Palajau. Samping rumahnya. “Alhamdulillah,” ungkapnya. Herman mengaku bisa lolos audisi KDI karena doa dan dukungan orang tua dan keluarganya beserta sahabatnya. Herman Kumis berharap dukungan pemerintah dan masyarakat Jeneponto. Serta masyarakat  Sulawesi Selatan dan seluruh masyarakat Indonesia. “Semoga saya  bertahan terus sampai grand final dan membawa nama baik Kabupaten Jeneponto. Amin,” harapnya.