Terkini.id, Jakarta – Mantan politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menanggapi pernyataan pendakwah, Felix Siauw soal bahwa narasi anti-NKRI, anti-Pancasila, intoleransi, radikal, dan lain-lain baru muncul di era Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dalam tanggapannya, Ferdinand menegaskan bahwa ia akan melawan kelompok radikal dan anti-Pancasila untuk menjaga NKRI.
Ia juga tak setuju dengan pernyataan Felix Siauw bahwa narasi radikal, anti-NKRI, hingga anti-Pancasila baru muncul di zaman Jokowi.
“Sejak Indonesia ada, narasi Radikal, Anti NKRI, Anti Pancasila itu sudah ada,” katanya melalui akun Twitter @FerdinandHaean3 pada Kamis,30 September 2021.
“Felix kalau ngga tau sejarah jangan banyak koar-koar deh memecah belah bangsa ini,” sambungnya.
Ferdinand menilai bahwa narasi itu sekarang lebih besar karena kelompok radikal, anti-NKRI, dan anti-Pancasila juga semakin membesar karena pembiaran selama puluhan tahun
“Sekarang kami akan lawan kalian untuk menjaga NKRI!” tandas Ketua Yayasan Keadilan Masyarakat tersebut.
Dilansir dari Galamedia News, Felix Siauw menilai sejumlah narasi serta tudingan negatif mulai muncul saat Jokowi mulai menjabat pada tahun 2014 lalu, atau setidaknya tahun 2016.
Tudingan yang dimaksud adalah anti NKRI, anti Pancasila, intoleransi, radikal, dan lainnya.
Felix berpendapat bahwa di era kepresidenan Megawati Soekarnoputri hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sejumlah narasi dan tuduhan negatif itu tidak pernah terdengar.
Hal ini diutarakan oleh Felix Siauw dalam wawancaranya di kanal Youtube Refly Harun pada Rabu, 29 September 2021.
“2002 itu saya mulai berdakwah. Dari tahun 2002 sampai 2015 nggak ada sebutan radikal, anti NKRI, seperti yang sekarang, anti-pancasila dan segala macamnya. Itu belum ada semua,” ujarnya.
Lalu, lanjut Felix mendadak di tahun 2016 mulai muncul ungkapan-ungkapan radikalisme dan intoleransi seolah ini masalah bernegara yang lebih besar.
“Ketika itu saya bingung dengan tuduhan itu. Kenapa kalau Felix Siauw intoleran, radikal, kenapa tuduhan ini baru muncul 2016,” katanya.
Sehingga Felix Siauw menyimpulkan ada bahwa perubahan yang signifikan sebelum dan sesudah tahun 2016.
“Tahun 2016 sampai sekarang, narasi itu terus masih dijaga. Jadi artinya ada keterkaitan antara narasi itu dengan politik yang dibangun,” pungkasnya.










