Terkini.id, Jakarta - Crazy Rich atau super kaya, adalah istilah yang sangat viral diperbincangkan diberbagai media sosial, tak jarang para crazy rich suka pamer harta atau kekayaan ke media sosial meraka, baik lewat akun instagram ataupun akun youtube, salahsatunya Indra Kenz.
Tanggapan dari beberapa nitizen pun beragam, mulai dari memuji hingga menghujat tindakan pamer kekayaan tersebut. Istilah itu dikenal dengan nama "Flexing", Lantas apa tujuan Indra Kenz "Crazy Rich" Melakukan itu ? mari kita bahas.
Dikutip dari Kompas com, Selasa 15 Maret 2022 Menurut Cambridge Dictionary, flexing adalah menunjukkan sesuatu yang dimiliki atau diraih tetapi dengan cara yang dianggap oleh orang lain tidak menyenangkan.
Sedangkan menurut kamus Merriam-Webster, flexing adalah memamerkan sesuatu atau yang dimiliki secara mencolok.

Tindakan semacam itu tentu menuai kontorversi dan mengundang banyak kritikan dari masyarakat Indonesia termasuk para nitizen di media sosial, hal ini dianggap sebagai perilaku berlebihan atau sombong, alasannya budaya Indonesia sangat erat dengan karakter sederhana atau rendah hati.
Indra Kenz justru sebaliknya, ia seakan menampilkan jenis kebiasaan "Gila" pemuda masa kini yang gemar flexing atau pamer kekayaan di media sosial. Mulai dari pamer jam tangan mahal, mobil dan rumah mewah, hingga suka pamer uang. Apakah hal itu hanya sebuah tindakan yang serta merta diperbuatnya ? Ataukah ada alasan lain dibaliknya ?
Flexing atau pamer kekayaan, rupanya bukanlah sekedar pamer belaka, melainkan sebuah istilah yang sudah lama digunakan sejak tahun 1990-an. Flexing sendiri termasuk dalam strategi marketing.
Seperti informasi yang dilansir dari channel youtube Narasi Newsroom, ia suka membuat personal branding sebagai anak muda sukses dan tajir melintir. Tujuan utamanya ya membikin orang lain terkesan.
Di dunia pemasaran, flexing atau bragging bukanlah hal baru. Riset menunjukkan membual bisa meningkatkan kesuksesan sebuah usaha hingga 66 persen.
Sadar atau tidak, Indra Kenz dan kawan-kawan melanggengkan teknik marketing semacam ini. Tujuannya bukan menjual produk, tapi untuk citra dan kepercayaan (trust). Ini karena membangun reputasi dengan flexing masih jadi cara terbaik untuk diingat di media sosial, seperti dikutip dalam channel youtube Narasi Newsroom, Senin, 14 Maret 2022.
Sampai disini cukup jelas bukan ? bahwa fenomena pamer kekayaan atau flexing bukanlah sekedar pamer harta saja, melainkan sebuah strategi marketing, untuk menarik simpati dan kepercayaan publik, oleh sebab efeknya yang signifikan mengundang antusias publik ditengah kondisi krisis dan pengangguran akibat pandemi covid-19 hingga saat ini.










