Terkini.id, Makassar – Kemarau panjang akibat fenomena El Nino, telah memicu gagal panen dan penurunan produksi pertanian di berbagai wilayah. Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian, Jan S Maringka, menggarisbawahi urgensi penanganan krisis ini.
Dalam upaya mengatasi dampak kekeringan yang meluas, kerja sama antara Kementerian Pertanian dengan Kementerian Desa dan Kementerian Dalam Negeri menjadi langkah penting.
Terdapat pula ketentuan dari Kementerian Keuangan dalam No 201 tahun 2022 tentang pengelolaan dana desa, yang menekankan alokasi anggaran dana desa minimal 20 persen untuk kegiatan pertanian.
“Ini landasan kita, misalnya membentuk lumbung-lumbung desa,” kata Jan S Maringka usai menggelar rapat koordinasi dan pengawasan di Hotel Claro Makassar, Senin, 7 Agustus 2023.
Lumbung desa merupakan lembaga sosial masyarakat pedesaan yang bertujuan menjaga cadangan makanan pokok di lingkungan mereka.
Lumbung desa akan mengumpulkan sebagian hasil panen dari para petani di desa untuk disimpan di lumbung padi.
Dengan penerapan konsep ini, Jan berharap sekitar 70 ribu desa yang ada di Indonesia akan memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri.
Jan S Maringka percaya bahwa fondasi ketahanan pangan bangsa dimulai dari lumbung-lumbung desa tersebut.
Salah satu provinsi yang menjadi fokus dalam menghadapi tantangan El Nino adalah Sulawesi Selatan (Sulsel). Pasalnya, Sulsel peringkat keempat dalam produksi beras secara nasional.
“Tujuannya adalah agar Sulsel tetap menjadi pilar pangan di wilayah Indonesia bagian timur,” ungkapnya.
Di sisi lain, Kementerian Pertanian juga mendorong adanya diversifikasi pangan untuk mendorong masyarakat agar menvariasikan makanan pokok yang dikomsumsi sehingga tidak terfokus pada satu jenis saja, seperti beras.
Menurutnya, diversifikasi pangan termasuk dari bagian ketahanan pangan.
“Kita sudah punya jagung, singkong dan sebagainya, itu adalah upaya kita bersama,” tuturnya.
Di tengah ancaman krisis pangan, pangan lokal seperti sorgum, sagu, ubi kayu, ubi jalar, sukun, ganyong, jawawut, talas, dan puluhan pangan lokal lain memang memiliki peluang besar ditengok.
Pada masa lalu, aneka tanaman ini jadi penopang penting ketahanan pangan masyarakat di berbagai daerah. Dengan menjalankan tradisi pengusahaan pangan lokal, mereka memiliki kedaulatan pangan dan bebas dari lapar.










