Amerika di Antara Benci dan Rindu

Amerika di Antara Benci dan Rindu

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

DARI dulu Amerika itu memang unik. Atau tepatnya Amerika selalu ingin tampil unik, beda dari negara atau bangsa lain di mata dunia.

Bahkan Amerika tidak mau disamai atau disamakan dengan siapapun dalam hal-hal mendasar dan biasa dari kehidupan.

Ketika orang lain menyebut bola kaki dengan football, Amerika menyebutnya Soccer.

Ketika dunia menimbang sesuatu dengan ukuran kilogram, Amerika menyebutnya pound.

Dunia mengukur lebar/panjang sesuatu dengan centimeter dan hektar, Amerika memakai kata feet dan acres.

Ketika dunia menyebut panjangnya perjalanan dengan kilometer, Amerika menyebutnya mile. Demikian seterusnya.

Kemampuan membangun imej atau persepsi itu menjadikan Amerika kadang ingin tampil berbeda (exceptional).

Terlebih lagi ketika negara ini dipimpin oleh seorang Presiden yang rasis seperti Donald Trump.

Kulit manusia pun ingin dipilah-pilah dengan penilaian kemuliaan dan kehinaan. Rasisme pun menjadi trademark keistimewaan yang menjijikkan.

Akhir-akhir disebabkan oleh beberapa peristiwa buruk di dunia global, dosa tua Amerika di Afghanistan, sisa-sisa perang Irak/Suriah yang seolah menjadi dosa turunan, kini perang Ukraine dan banyak lagi isu-isu global menyeret Amerika ke dalam ragam masalah yang cukup rumit.