Wisata Halal di NTB: Pendaki Pria-Wanita Dipisah, Gunung Rinjani Tutup Tiap Jumat

Wisata Halal di NTB: Pendaki Pria-Wanita Dipisah, Gunung Rinjani Tutup Tiap Jumat

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Terkini.id, Lombok Timur - Kunjungan wisatawan di Lombok terus meningkat. Seiring dengan itu, pemerintah juga tengah mendorong wisata halal. Salah satunya adalah kebijakan terkait wisata ke Gunung Rinjani. Pengelola gunung yang disebut paling romantis itu, berencana akan memisahkan pendaki laki-laki dan perempuan. Jalurnya juga akan ditutup di hari Jumat. Hal itu seperti disampaikan pengelola Gunung Rinjani melalui akun instagram @gunungrinjani_nationalpark, Kamis 20 Juni 2019. "Penutupan jalur pendakian Sembalun setiap hari Jumat, lebih lengkapnya sebagai berikut," tulis akun tersebut sambil melampirkan pengumuman Balai Taman Nasional Rinjani. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Sudiyono dalam surat tersebut menyebutkan, penutupan di hari Jumat atas usulan masyarakat dan hanya di Jalur Sembalun. "Sehubungan dengan permintaan masyarakat dan tokoh masyarakat Sembalun untuk tidak melakukan pendakian ke Gunung Rinjani setiap hari Jumat," tulisnya. "Setiap hari Jumat, jalur pendakian Sembalun ditutup. Bagi wisatawan yang ingin melakukan pendakian pada hari tersebut, disarankan untuk memilih jalur pendakian lain seperti jalur pendakian Senaru, Timbanuh dan Aikberik," tulisnya. https://www.instagram.com/p/By6WxOEARI6/?utm_source=ig_embed Dilihar dari sisi pariwisata, pemisahan pendaki ini memang sejalan dengan konsep wisata halal yang tengah digaungkan Pemda NTB. Itu digaungkan pemerintah dalam memasarkan potensi wisatanya agar berbeda dengan daerah di sebelahnya, Bali.

Pemisahan Pendaki Laki-laki dan Perempuan

https://www.instagram.com/p/By632cRAJTy/ Dilansir dari detikcom, pemisahan akan dilakukan di area kamping. "Area kemping itu bisa saja di tengah-tengah itu ada jalan masuk, kemudian yang sebelah kiri itu laki-laki dan kanan perempuan, yang tengah itu buat petugas atau (porter) apa gitu," urai Sudiyono. Ide memisahkan pendaki laki-laki dan perempuan diinisiasi oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR). Hal itu sebagai implementasi wisata halal yang ada di Lombok, yakni jika pendaki yang berpasangan tidak diperboleh untuk tidur bareng. "Itu ide hasil diskusi kami di TNGR. Bagaimana kita menyambut wisata halal, tandanya seperti apa kita belum mendapat informasi yang fix. Kita ingin terus mneggali halal sesuai ajaran agama. Antara lain kalau malam laki-laki dan perempuan itu terpisah kalau belum ada kaitan langsung secara agama," urai Sudiyono lagi.