Terkini.id, Jakarta - Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengajak umat Islam menjadi pribadi yang mutakin dan jangan menjadi muslimin yang musingin alias buat pusing.
Hal itu disampaikannya dalam ceramah di Masjid Baiturrahman Aceh dalam kesempatannya melakukan kunjungan kerja.
"Menjadi muslimin itu tidak cukup, apalagi kalau sampa kita menjadi orang yang musingin. Musingin itu bikin pusing," kata Wapres Ma'ruf seperti terekam di kanal Youtube Okezone.com, Kamis, 14 April 2022.
Wapres Ma'ruf mengatakan umat Islam harus menjadi orang yang mutakin sebab orang yang bertakwa memiliki kehormatan di sisi Allah.
"Kenapa kita harus jadi mutakin? Karena di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala yang memiliki kehormatan itu adalah orang mutakin," jelas mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia itu.

Mendengar ceramah yang disampaikan kiai mantan Rais Aam Nahdlatul Ulama atau NU itu bukan membuat publik adem malah kembali menghujatnya.
"Anda dan pemerintah yg bikin pusing rakyat, segala naik ga mikir rakyat kecil gajinya berapa bensin pertamax 12500 pertalite susah, minyak mahal 50 2 liter," kata Zahrafelisha.
"Kami mah gk musingin, justru pihak onoh yg bikin pusing rakyat Pak," timpal Rey Yusron channel.
Wapres Ma'ruf sebelumnya menuai kontroversial dengan pernyataan terkait makan dua pisang cukup menggantikan nasi.
"Seiring dengan gerakan diversifikasi pangan, 'Kenyang tidak harus makan nasi', ini semboyannya betul ya? Kenyang tidak harus makan nasi," kata Ma'ruf seperti ditulis artikel Terkini.id, Jumat, 1 April 2022.
"Jadi, sebenarnya kalau Bapak/Ibu makan dua buah pisang, itu artinya sudah cukup mengenyangkan, untuk mengganti satu porsi nasi. Jadi, makan dua pisang tidak perlu makan nasi. Tapi biasanya kita makan nasi iya, juga pisang iya. Itu sudah berlebihan," ungkap mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden SBY itu.
Pernyataannya tersebut disampaikan saat melakukan kunjungan kerja mengikuti panen raya perdana pisang cavendish di Desa Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Wapres Ma'ruf pun menuai kontroversial akibat pernyataannya itu. Kebanyakan publik memberikan komentar sinis kepada sang kiai.










