Terkini.id, Jakarta - Usai kudeta militer, kondisi Myanmar kini tampak mengerikan hingga bahkan terlihat seperti rumah jagal lantaran dikabarkan bahwa setiap hari orang-orang dibunuh bak binatang.
Diketahui, dalam pekan-pekan seusai kudeta militer pada 1 Februari 2021 lalu, banyak masyarakat Myanmar yang melakukan unjuk rasa damai demi menuntut kembalinya pemerintah sipil, salah satunya warga bernama Andrew.
Dilansir terkini.id dari Merdeka pada Jumat, 18 Juni 2021, kurang dari dua bulan, pemuda 27 tahun itu dilatih untuk membunuh tentara dengan senapan berburu di hutan di negara bagian Kayah yang berada di perbatasan tenggara Myanmar dengan Thailand.
“Sebelum kudeta, bahkan saya tidak bisa membunuh seekor binatang pun,” jelas Andrew kepada Al Jazeera, meminta nama aslinya agar tak diungkap demi alasan keamanan.
“Ketika saya melihat militer membunuh warga sipil, saya merasa sangat sedih dan kacau," sambungnya.
"Saya berpikir saya berjuang untuk rakyat melawan diktator militer kejam."
Andrew merupakan satu dari sejumlah warga sipil di Myanmar yang turut angkat senjata untuk melawan militer yang telah membunuh lebih dari 860 orang.
Diketahui paling banyak saat unjuk rasa anti kudeta di mana pihak militer menangkap lebih dari 6.000 orang dan menggunakan taktik penyiksaan dan penghilangan paksa sejak kudeta.
Beberapa pejuang pun menjadi anggota organisasi etnis bersenjata di perbatasan negara tersebut, di mana etnis minoritas telah bertempur selama puluhan tahun melawan militer Myanmar atau Tatmadaw untuk penentuan nasib dan hak sendiri.
Sementara itu, yang lainnya, seperti Andrew, telah bergabung dengan satu dari belasan pasukan pertahanan sipil yang berkembang di kota-kota dan daerah sejak akhir Maret 2021.
Selagi kelompok etnis bersenjata selama bertahun-tahun mengembangkan sumber daya dan kapasitasnya, pasukan pertahanan sipil kebanyakan bersenjatakan senapan berburu dan senjata rakitan lainnya, dan banyak pejuang hanya mengikuti pelatihan selama beberapa pekan.
Menghadapi militer dengan persenjataan senilai USD 2 miliar dan memiliki pengalaman 70 tahun menindak penduduk sipil, kaum revolusioner baru mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka siap menguji peluang karena merasa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya pilihan yang tersisa untuk menjatuhkan rezim.
“Kami telah melaksanakan unjuk rasa di seluruh negeri dan meluncurkan gerakan pembangkangan sipil melawan militer dengan harapan mengembalikan demokrasi sipil, tapi metode-metode itu saja tidak ampuh,” jelas Neino, mantan dosen yang sekarang memimpin sayap politik kelompok pertahanan sipil di Negara Bagian Chin dan wilayah tetangganya, Sagaing.
“Kami telah melakukan segala yang kami bisa dan mengangkat senjata adalah satu-satunya cara yang tersisa untuk memenangkan ini,” pungkas wanita itu.










