Terkini.id, Jakarta - Penghinaan pejabat India kepada Nabi Muhammad SAW dan Aisyah RA mendapat tanggapan Ulama Afrika Syekh Muhammad al-Hassan Walid al-Didu al-Shanqiti menyerukan umat untuk menunjukkan sikap atas penghinaan tersebut.
"Kewajiban umat Islam terhadap orang-orang yang menghina Islam dan Nabinya yang mulia SAW, adalah memboikotnya secara politik dan ekonomi untuk mendukung Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslimin. Tidak ada kebaikan dalam hubungan diplomatik yang tidak menjaga harkat dan martabat bangsa,"kata Syekh al-Didu di dilansir dari Republika.co.id Senin, 6 Juni 2022.
Kata Syekh al-Didu sebagai umat Nabi, setiap Muslim perlu mengambil sikap. Kepala pengembangan cendekiawan Muslim Afrika ini mengutip ayat Alquran terkait balasan Allah SWT atas orang-orang yang menghina Rasulullah.
"(Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus), sebuah ayat abadi dari Kitab Allah yang berbicara tentang orang-orang yang berani menghina Rasulullah SWT. Jadi tidak ada gunanya kita jika kita tidak mendukungnya dan memboikot orang-orang yang menyinggungnya sampai mereka menyadari kesalahan yang mereka lakukan dan meminta maaf," jelasnya.
Syekh Hassan al-Didu juga mengutip surat Al-Kautsar ayat 3 menerangjan tentang orang-orang yang membenci Nabi.
Dugaan terhadap juru bicara Bharatiya Janata Party (BJP) Nupur Sharma membuat beberapa pernyataan yang tidak pantas terhadap Nabi Muhammad SAW yang terjadi di diskusi panel di saluran TV berita India.
Mufti Besar Oman juga menyerukan boikot massal terhadap produk India di negara-negara Timur Tengah. Beberapa toko dilaporkan telah menarik produk India setelah kontroversi tersebut. Banyak pengguna kemudian mengaitkan kontroversi ini dengan Perdana Menteri Narendra Modi.
"Rencana yang kurang ajar dari juru bicara resmi untuk partai ekstremis yang berkuasa di India melawan Rasulullah SAW dan Ibu kaum beriman Aisyah RA adalah perang melawan setiap Muslim di Timur dan Barat bumi. Dan ini adalah masalah yang melibatkan semua Muslim untuk bangkit sebagai satu bangsa," tulis Mufti Besar Oman Syekh Al-Khalili di Twitter.











