Terkini.id, Jakarta - India mengalami serangan emosi dari beberapa negara dengan mayoritas beragama Muslim terkait tudingan penistaan agama.
Penghinaan atas Islam dan Nabi Muhammad oleh pejabat tinggi dari Partai Nasionalis Hindu
yang membuat New Delhi berjuang menghadapi efek dari tindakan tersebut yang cukup besar dampak kerusakannya.
Terkait penistaan yang dilakukan dua pejabat partai BJB (Bharatiya Janata Party)
terkait kuasa tentang Nabis Muhammad serta 38 orang lainnya ditangkap.
Senin, 6 Juni 2022 Pemerintah India melakukan penangkapan terebut sebagai upaya menenangkan amarah dari dalam dan luar negeri.
Bahkan dikabarkan di Mumbai akan digelar kerusuhan dan protes yang sedang direncanakan.
Beberapa petinggi India yang ikut terlibat dalam proses diplomatik mendapat tuntutan permintaan maaf
dari beberapa negara berpenduduk mayoritas muslim yaitu Qatar, Arab Saudi, Oman, UEA, Afghanistan, Pakistan dan Iran
yang menuntut permintaan maaf tersebut terkait penghinaan yang dilontarkan.
Pernyataan tersebut diungkapkan oleh pejabat Kementerian Luar Negeri India.
Selama akhir pekan, diplomat India yang ditempatkan di Teluk dan negara-negara Islam tetangga juga telah dipanggil oleh pejabat di negara-negara tersebut untuk memprotes komentar pejabat BJP.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri India mengatakan dalam sebuah pernyataan
bahwa tweet dan komentar ofensif itu, dengan cara apa pun, tidak mencerminkan pandangan pemerintah.
"Tindakan keras telah diambil terhadap orang-orang ini oleh badan-badan terkait... Sangat disesalkan bahwa Sekretariat OKI sekali lagi memilih untuk membuat komentar yang memotivasi, menyesatkan dan nakal," ungkap Arindam Bagchi, juru bicara pemerintah. Dilansir dari wowkeren.com.
Juru biaca dari BJB mendapatkan skoring serta mengusir beberapa pejabat lainnya yang memberikan pernyataan tidak etis terhadap Islam.
Pengusiran itu dilakukan pada Minggu, 5 Juni 2022. Terkait tindakan BJB, Arab Saudi menyambut tindakan baik dari BJB dalam pengusiran pada juru bicara.
Seorang pejabat senior di Kedutaan Besar Qatar di New Delhi mengatakan pemerintah Modi harus secara terbuka menjauhkan diri dari komentar tersebut.
"Melukai sentimen agama kami dapat secara langsung berdampak pada hubungan ekonomi," pungkas pejabat itu, seraya menambahkan bahwa mereka sedang memeriksa laporan tentang boikot barang-barang India oleh beberapa pemilik supermarket di Qatar.










