Sri Mulyani: Utang Indonesia Biasanya Sedikit Baper

Sri Mulyani: Utang Indonesia Biasanya Sedikit Baper

Fahri Setiadi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani pada UI International Conference on G20 beberapa waktu silam menyebut bahwa ketika dirinya berbicara mengenai persoalan utang Indonesia, biasanya sedikit baper, Kamis 14 Juli 2022.

Berdasarkan pantauan CNBCIndonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai terkadang agak sensitif atau bawa perasaan alias disebut baper ketika berbicara soal utang Indonesia.

"Ketika saya berbicara soal utang di Indonesia, biasanya sedikit 'baper'," sebut Sri Mulyani pada UI International Conference on G20 beberapa waktu lalu.

Pasalnya utang di Indonesia itu meningkat hanya pada kurun beberapa waktu terakhir ini saja. Utang yang meningkat, menurut Sri Mulyani buat memenuhi kebutuhan pembiayaan dalam negeri tersebut, terutama buat penanganan pandemi Covid-19 dan juga pemulihan ekonomi nasional itu.

Rasio utang di Indonesia, diakui Sri Mulyani waktu ini masih pada kondisi aman dan terkendali pada level 39,09% di akhir April dan buat posisi utang mencapai senilai Rp 7.040,32 triliun jumlahnya.

Meskipun demikian, menurut Sri Mulyani sekarang kondisi ekonomi di Indonesia telah relatif baik yang ditunjukan dari pemulihan ekonomi yang mana terus berlangsung kuat tersebut, dan aktivitas dunia usaha serta ekonomi yang meningkat.

Tidak hanya demikian, sisi pendapatan negara pada tahun ini pun mendapatkan berkah oleh lonjakan harga komoditas, Kemudian, bisa mengurangi rasio utang lewat penarikan utang.

"Dengan penerimaan yang kuat dari commodity boom, rasio utang kita terhadap PDB sebenarnya telah turun 38%," bebernya. Hal itu lebih baik daripada negara yang lainnya.

Pandemi Covid-19 yang telah memasuki tahun ketiga ini, Akan tetapi, diketahui masih banyak negara yang mengalami defisit sangat dalam tersebut. Kondisi tersebut bermuara pada peningkatan utang publik buat negaranya.

"Beberapa negara rasio utang sudah di atas 60% bahkan ada yang 80% bahkan 100% terhadap PDB. Jadi mereka sekarang memiliki rasio utang terhadap PDB yang lebih dramatis, dan untuk negara yang berpenghasilan rendah dan rentan situasinya menjadi tidak berkelanjutan," pungkasnya.

Oleh sebab itu, pada kepemimpinan Indonesia di dalam Presidensi G20 yang berupaya buat menyinkronkan kerangka kebijakan dan juga diskusi bersama negara G20 buat mencari solusi buat negara berpenghasilan rendah yang tengah terlilit utang tersebut.

"Begitu banyak negara berpenghasilan rendah sebenarnya dalam risiko yang sangat mengerikan atau mendekati krisis keuangan. Menurut IMF lebih dari 60 negara berada dalam kondisi yang sangat rentan secara finansial dan oleh karena itu dunia perlu merespon," terang Sri Mulyani.