Terkini.id, Jakarta – Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo ikut memberikan pendapatnya terkait pernyataan kontroversial yang dikatakan Pendeta Saifuddin Ibrahim.
Menurut Romo Benny Susetyo, apa yang ditunjukkan Pendeta Saifuddin Ibrahim bertentangan dengan iman Kristiani.
Romo Benny juga menjelaskan bahwa iman Kristiani ini sudah menjadi prinsip Kristiani, dimulai dari Paus Yohanes kedua sampai Fransiskus.
“Kalau ini yah bertentangan dengan iman Kristiani, karena prinsip iman Kristiani itu adalah mencintai sesamanya, tidak boleh menghujat, dan tidak boleh menghina agama orang lain” Ujar Romo Benny Susetyo dalam kanal YouTube tvOneNews, dilihat pada Jumat 25 Maret 2022.
“Itulah prinsip Paus, dimulai dari Paus Yohannes kedua sampai Fransiskus. Nilai-nilai agama itu luhur” Ujar Romo Benny menjelaskan.
Dalam pernyataannya Romo Benny juga menuding bahwa Pendeta Saifuddin Ibrahim tidak memiliki otoritas dan pengetahuan untuk menjelaskan isi kitab suci.
Romo Benny juga memberikan penjelasan bahwa untuk menafsirkan kita suci harus diketahui beberapa hal penting seperti teks, konteks, dan sosial budayanya.
“Dia tidak punya otoritas dan kemampuan dalam ilmu pengetahuan itu” Ungkap Romo Benny melanjutkan.
“Kitab suci itu harus tahu bahasa aslinya, dalam tag itu harus lihat sinlibelnya, teks, konteks dan sosial budaya” Ungkap Romo Benny melanjutkan.
Anggota Badan Pembina Ideologi Pancasila ini juga menjelaskan bahwa butuh minimal 25 tahun bagi seseorang untuk mempunyai kemampuan menafsirkan kitab suci.
“Belajar kitab suci itu minimal dua puluh lima tahun bahasa aslinya, maka dalam hirarki gereja katolik yang bisa menafsirkan itu punya otoritas” Tegas Romo Benny.
Romo Benny Susetyo dalam penjelasannya juga mengatakan bahwa dalam Perjanjian Lama juga banyak ayat-ayat kekerasan, oleh sebab itu penting untuk mengetahui konteksnya secara keseluruhan.
“Dalam perjanjian lama juga banyak ayat-ayat kekerasan tapi konteksnya apa? Harus dilihat secara keseluruhan” Ungkap Romo Benny melanjutkan.
Seperti diketahui, Pendeta Saifuddin Ibrahim mendadak menjadi pembicaraan masyarakat Indonesia karena pernyataan kontroversialnya yang meminta Menteri Agama Yaqut Choll untuk menghapus 300 ayat yang ada di dalam Al-Quran.
Pendeta Saifuddin Ibrahim juga menginginkan 300 ayat Al-Quran dihapuskan karena dirinya merasa bahwa hal itu menjadi sumber perilaku radikal dan intoleran dalam kehidupan beragama.










