Soal Kenaikan Harga Pertamax, Erick Thohir: Harusnya Rp 16 Ribu, Tapi Pemerintah Peduli!

Soal Kenaikan Harga Pertamax, Erick Thohir: Harusnya Rp 16 Ribu, Tapi Pemerintah Peduli!

SW
St. Wahidayani

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta – Belum lama ini, PT Pertamina (Persero) kini resmi menaikan harga jual minyak non subsidi jenis Pertamax dari Rp9.000 menjadi Rp12.500 per liter mulai 1 April 2022.

Pejabat Sementara Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting mengatakan, beban keuangan perseroan mendapat dampak tingginya harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel.

"Penyesuaian harga bahan bakar minyak tidak terelakkan, namun dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat," jelasnya.

Menurutnya penyesuaian harga dilakukan secara selektif hanya berlaku BBM nonsubsidi yang dikonsumsi masyarakat, sebesar 17 persen dengan rincian 14 persen konsumen pertamax dan tiga persen untuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamax Dex.

"Pertamina selalu mempertimbangkan daya beli masyarakat, harga Pertamax ini tetap lebih kompetitif di pasar atau dibandingkan harga BBM sejenis dari operator SPBU lainnya. Ini pun baru dilakukan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, sejak 2019," jelas Irto.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebut kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 12.500 per liter menandakan pemerintah masih peduli dan hadir di tengah-tengah masyarakat.

Seharusnya, harga Pertamax yaitu Rp 16 ribu per liternya. Namun, Pemerintah masih memberikan subsidi sehingga harga pertamax Rp 12.500.

“Harusnya Rp 16 ribu karena Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, tetapi pemerintah memberikan harga Rp 12.500. Artinya pemerintah peduli, dan pemerintah hadir,” ucap Erik di Margonda, Depok. Dikutip dari Jpnn. Selasa, 2 April 2022.

Selain itu, Erik juga turut angkat bicara terkait banyaknya masyarakat yang beralih ke BBM jenis pertalite, dikarenakan naiknya harga pertamax.

Menurutnya, selama ketersediaan terpenuhi sejatinya hal tersebut tidak harus diperdebatkan. Ia mencontohkan, seperti hal nya saat masyarakat beralih dari premium ke pertalite.

"Sehingga yang namanya kerusakan udara dan polusi bisa dikurangi. Sehingga kesehatan juga terjaga. Jadi pertalite itu kurang apa? Pemerintah sudah mengganti premium ke pertaite," kata Erik.