Serukan Bubarkan Densus 88, Helmi Felis: Jika Tak Sanggup, Jokowi Mundur Saja!

Serukan Bubarkan Densus 88, Helmi Felis: Jika Tak Sanggup, Jokowi Mundur Saja!

Muh Ikhsan

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta – Pegiat media sosial Helmi Felis mengecam keras tindakan yang dilakukan Densus 88 terhadap tewasnya terduga teroris Dokter Sunardi.

Apalagi, cara penangkapan Dokter Sunardi dinilai sangat tidak manusiawi sebab dilakukan di tengah perjalanan pulang dari praktik di klinik Ponpes Ulul Albab Polokarto menuju ke rumahnya di Keluharan Gayam, Sukoharjo, pada Rabu 9 Maret 2022 sekitar pukul 21.15 WIB.

Helmi kemudian menyerukan agar Densus 88 agar segera dibubarkan. Ia mendukung pernyataan Fadli Zon untuk segera mengakhiri tragedi serupa dengan cara membubarkan Densus 88.

“Dan kami mendukung ide Pembubaran Densus 88 yang di suarakan saudara Fadli Zon,” ujar Helmi melalui akun Twitternya @Helmi_Felis pada Jumat 11 Maret 2022.

Ia mengatakan, Densus 88 jangan begitu mudahnya memberikan cap teroris hanya kepada umat Islam saja. Sebab hal itu jelas merupakan tindakan teror.

Bubarkan Densus 88, jangan TEROR umat Islam, jangan TERORISKAN mukminin,” tegasnya.

Karena itu, ia menyerukan agar Densus 88 segera dibubarkan. Jika tidak sanggup, maka sebaiknya Presiden Joko Widodo mundur dari jabatannya, sebab tidak mampu menyelesaikan permasalahan.

“Jika tak sanggup bubarkan Densus 88, Jokowi mundur saja, segalanya gak sanggup,” sambungnya.

Diketahui, Fadli Zon sendiri merupakan salah satu pihak yang getol menyuarakan pembubaran Densus 88.

Anggota DPR Fraksi Gerindra itu menyebut, pembubaran Densus 88 berangkat karena berbau Islamofobia.

Fadli Zon kemudian menjelaskan alasannya meminta Densus 88 dibubarkan. Ia menyebut ada sebuah narasi dari pejabat Densus 88 bahwa Taliban yang berkuasa di Afghanistan akan memberikan inspirasi ke kelompok teroris di Indonesia.

“Saya melihat ada sebuah berita yang diungkapkan tentang Taliban memberikan inspirasi teroris di Indonesia (pernyataan itu) dari seorang pejabat di Densus,” ujar Fadli dikutip dari Pikiranrakyat.com.

Menurutnya, narasi pejabat Densus 88 itu terkait teror Taliban bisa menginspirasi teroris Indonesia tidak akan laku lagi.

“Ini narasi tidak laku lagi, karen war on terror dimulai tahun 2001 setelah persitiwa 9/11 dan kemarin tanggal 31 Agustus 2021 sudah berakhir,” sambungnya.