Sentil BPIP, Said Didu: Digaji Lebih Rp100 Juta, kok Malah Sering Buat Bibit Perpecahan!

Sentil BPIP, Said Didu: Digaji Lebih Rp100 Juta, kok Malah Sering Buat Bibit Perpecahan!

Dzul Fiqram Nur

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu menyoroti gaji Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Said Didu melalui cuitannya di Twitter membongkar gaji BPIP yang menurutnya lebih dari Rp100 juta.

Said pun mengkritik kegiatan BPIP yang dinilai sering membuat ketegangan di publik, padahal digaji tinggi oleh rakyat.

"Anggota BPIP terkini dari para tokoh nasional yang digaji lebih Rp100 juta sebulan," cuit Said Didu, dikutip terkini.id, dari Suara pada Senin, 16 Agustus 2021.

"Tapi kok malah seringnya membuat ketegangan dan bibit-bibit perpecahan bangsa," tulisnya kembali.

Ia pun berharap agar para pihak yang ada di BPIP segera sadar akan besarnya uang rakyat yang diterima.

"Semoga mereka sadar akan besarnya uang rakyat yang mereka terima tapi hanya menjadi sumber masalah," tutupnya.

Seperti yang terlihat, banyak warganet yang setuju atas pernyataan Said Didu.

"Menurut saya pribadi, dari awal pembentukannya saja tujuannya cuma untuk bancakan uang rakyat supaya terlihat legal," komentar TokoWibowo.

"Setiap 1 tetes darah dari makan uang haram, 1 kursi setan bertahta di hati seorang manusia," komentar nasmid.

"Kalau digaji oleh uang rakyat dan kerjanya berfaedah untuk rakyat mah ikhlas ridho, tapi kalau kerjanya unfaedah buat rakyat dan menggaji hanya balas budi penguasa sampai akhirat pun tidak ikhlas dan ridho," komentar rerewant1.

Sebagai informasi, BPIP baru-baru ini menjadi sorotan lantaran lomba yang dibuatnya terkait penulisan artikel tingkat nasional khusus para santri.

Dalam lomba tersebut, BPIP menentukan tema tentang hormat bendera menurut Islam, dan menyanyikan lagu kebangsaan menurut Islam.

Banyak yang menilai bahwa dengan tema tersebut, berpotensi menimbulkan tulisan-tulisan yang nantinya berdampak pada nama baik santri.

Banyak yang mengkhawatirkan, jangan sampai ada tulisan yang mengatakan bahwa hukum hormat dan menyanyikan lagu kebangsaan itu haram, sehingga menjadi sasaran untuk kekisruhan selanjutnya.