Terkini.id, Makassar - Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Muhyiddin terkesan menutupi kasus perundungan siswa di SMPN 21 Makassar yang viral di media sosial. Ia menyebut hal itu hanya konten lucu-lucuan.
Terlihat dalam video, salah satu siswa dipukul secara bertubi-tubi tanpa melakukan perlawanan. Sementara siswa yang lain tampak hanya menonton dan menikmati perundungan tersebut.
Hal itu mendapat respons dari Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto dan Ketua Dewan Pendidikan Makassar Rudianto Lallo. Danny Pomanto membantah bahwa hal itu adalah konten.
"Tidak mungkin konten itu, saya sudah lihat videonya. Ini masalah moral, anak-anak kita harus di kawal dengan baik," kata Danny Pomanto, Rabu, 12 Januari 2021.
Sebelumnya, Muhyiddin mengatakan setelah mempertemukan kedua belah pihak baik dari siswi yang ada dalam video, orang tua para siswi, dan pihak sekolah.
Setelah mendengarkan penjelasan dari semua pihak terkait, ia menyimpulkan bahwa video itu bukan kekerasan namun hanya konten.
"Ini sebenarnya persoalan sepele, anak -anak itu kalau umur seperti ini biasanya diejek sedikit itulah yang membuat sampai saling memprovokasi dan disamping itu kami anggap bahwa ini adalah konten karena setelah kami klarifikasi dengan orangtua, ini kan ada lucu-lucunya," kata dia.
"Lucunya seperti apa jadi pada saat anak ini berkelahi ada yang minum dulu ambil tenaga, ada juga bilang makan dulu supaya kuat, nah inikan konten," sambungnya kemudian.
Menanggapi itu, Ketua Dewan Pendidikan Kota Makassar Rudianto Lallo meminta Dinas Pendidikan mencari tahu lebih jauh asal muasal terkait video viral tersebut.
"Dinas Pendidikan lakukan langkah konkret terkait video viral terhadap anak-anak kita. Saya kira itu tidak boleh kita biarkan, inilah peran besar dari guru-guru kita, dan sekolah untuk mengawasi murid-murid atau anak-anak kita yg melakukan proses belajar tatap muka," kata Ketua DPRD Makassar ini.
Rudianto meminta Dinas Pendidikan memastikan kejadian tersebut sebelum mengeluarkan pernyataan yang kontroversi. Hal itu, kata dia, akan berdampak pada anak.
"Kekerasan anak tidak boleh dibiarkan, dinas bisa menggandeng pihak kepolisian untuk mencari tahu agar menghindari kejadian terulang. jangan nilai terlebih dahulu sebelum memeriksa, memastikan dahulu," ucapnya.
Menurutnya, sekolah itu tempat belajar, bukan tempat memproduksi kekerasan. Ia khawatir akan muncul stigma negatif bila tak dibenahi dengan cepat.










