Terkini.id, Jakarta - Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia menilai adanya kepentingan perolehan suara pada pemilu via politik identitas sehingga politikus Partai Gerindra Fadli Zon menggadang-gadang islamofobia atau ketakutan terhadap Islam.
"Politisi di negara-negara dengan minoritas muslim selalu menjadikan islamofobia sebagai alat untuk menormalisasi kebencian terhadap Islam," katanya, dalam sebuah acara diskusi di tvOne, Selasa 12 Oktober 2021 malam.
"Tapi di negara-negara dengan mayoritas muslim [islamofobia] juga dipakai sebagai alat politik identitas untuk memperkuat kebencian itu sebagai daya pikat elektoral," sambung Islah.
Kata dia, hal itu merujuk buku yang ditulis Nathan Lean berjudul 'The Industry of Islamophobia'.
"Artinya begini, islamofobia ini tidak berdiri sendiri. Ini dinikmati kedua belah pihak. Baik non-Islam maupun orang Islam sendiri," katanya.
Sebelumnya, Fadli mengatakan jika Densus 88/Antiteror Polri dibubarkan saja karena dinilai berbau islamofobia usai menyebut kemenangan Talban memicu teror di dalam negeri.
"Narasi semacam ini tak akan dipercaya rakyat lagi, berbau Islamifobia. Dunia sdh berubah, sebaiknya Densus 88 ini dibubarkan saja. Teroris memang harus diberantas, tapi jangan dijadikan komoditas," cuit Fadli di akun Twitter-nya, Rabu 6 Oktober 2021..
Pada acara diskusi yang sama, Fadli Zon, yang merupakan anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Barat V (Kabupaten Bogor), berwacana bahwa teroris kerap sengaja diciptakan oleh otoritas negara sebagai komoditas.
"Kan ada juga istilah dalam intelejen itu, agen-agen yang ditanam di kelompok teroris sebetulnya mereka lah yang menggerakkan. Dan mereka itu lah yang biasanya merekrut bahkan membiayai," kata dia.
Fadli merujuk buku yang ditulis Trevor Aaranson berjudul 'Terror Factory'. Buku itu kata Fadli mengungkap bahwa dari 581 kasus teror di Amerika, 580 di antaranya adalah buatan biro investigasi federal atau FBI.
Ia khawatir kasus serupa juga terjadi di Indonesia. "Jadi ini menurut saya harus kita teliti jangan sampai kita juga termakan oleh kampanye war on terror ini. Dan sasarannya adalah saya kira hampir 100 persen ditujukan kepada Islam," klaim Fadli.










