Terkini.id, Jakarta - Pegiat media sosial Denny Siregar kembali mencuitkan sesuatu di laman media sosial Twitter-nya dan kali ini terkait orang Papua.
Menurutnya, "model" orang Papua itu ada dua, yakni mereka yang pro terhadap NKRI dan mereka yang menolak NKRI.
Dalam cuitannya tersebut ia juga menuliskan kepada para pendukung Veronica Koman agar pergi saja ke laut.
"Orang Papua itu ada dua model, yang pro NKRI dan yang nolak NKRI," buka Denny.
"Jadi maaf, gua hanya mendengar orang Papua yang pro NKRI, lanjutnya."
"Pendukung @VeronicaKoman sih ke laut ajah."
Cuitan tersebut tentunya membuat sebagian dari kita penasaran. Memangnya, siapa Veronica Koman? Dan ada apa gerangan?
Sekadar informasi, Veronica Koman adalah seorang pengacara dan pegiat hak asasi manusia asal Indonesia yang dikenal akan advokasinya untuk isu-isu pelanggaran HAM yang terjadi di Papua.
Diketahui bahwa baru-baru ini, Veronica menyinggung perihal perbedaan sikap pemerintah Indonesia dalam menyikapi desakan menyelesaikan masalah Papua dan merespons kudeta di Myanmar.
Menurutnya, langkah Indonesia dalam menyikapi kudeta Myanmar sejauh ini bagus, akan tetapi tidak ketika menyikapi isu Papua.
"Lucu, Indonesia tidak mengindahkan desakan internasional untuk supaya menyelesaikan konflik di Papua, tapi bisa berani untuk Myanmar sebetulnya langkah yang bagus," kata Veronica dalam webinar yang digelar Milk Tea Alliance Indonesia pada hari Minggu malam, 28 Februari 2021 kemarin.
Perkataannya itu menjadi dugaan kuat munculnya cuitan Denny Siregar yang membahas perihal orang-orang Papua yang pro maupun yang menolak NKRI.
"Bang ... kenapa ya mereka menolak NKRI?Padahal mereka tinggal di negara RI juga?" tanya akun @ariyani08925367 di kolom balasan.
"Bisa dimaklumin sih, sekian puluh tahun mereka dizalimi apalagi di masa orba. Tapi seharusnya masalah itu selesai di masa Jokowi, karena Papua lagi diperhatikan benar, bahkan dana otsus besar-besaran. Cuman, ada yg memanfaatkan rasa sakit hati lama aja untuk kepentingan pribadi," jawab Denny Siregar.
"Karena mereka kemakan propaganda asing dan jaraknya dari jakarta papua itu jauh. Harusnya ibu kota itu di tengah indonesia, bukan di barat agar semua bisa merasa dekat dengan ibu kota," timpal akun @jo57256234.
"Papua masiih NKRI dengan berbagai macam ragam budaya dan masalah yang menyertai. "Kurang terurus" pada rezim-rezim sebelumnya. Inilah yang menjadi perhatian pemerintahan sekarang. Banyak perubahan ke arah lebih baik terjadi di Papua, ada kekurangan memang perlu diperhatikan," komentar akun lainnya @yuliuswiwin1.










