Setelah pencarian intensif, Tim SAR Gabungan menemukan sejumlah serpihan pesawat pada Minggu pagi (18/1/2026) di kawasan Gunung Bulusaraung, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.
Serpihan pertama berupa jendela pesawat ditemukan pada pukul 07.46 WITA, disusul bagian badan pesawat berukuran besar pada pukul 07.49 WITA, dan bagian ekor pesawat di lereng bawah lokasi kejadian pada pukul 07.52 WITA.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, menyebut temuan ini sebagai petunjuk penting dalam mempersempit area pencarian.
“Penemuan serpihan ini menjadi clue vital. Fokus kami saat ini pengamanan lokasi, pendataan temuan, dan penyesuaian taktik operasi sesuai kondisi medan,” ujarnya.
Medan Ekstrem, SAR Minta Alat Mountaineering
Lokasi jatuhnya pesawat berada di kawasan hutan vegetasi basah Karaengta, dengan ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut. Medan terjal dan tebing karst menjadi tantangan besar dalam proses evakuasi.
Tim SAR pun mulai meminta tambahan peralatan mountaineering demi menjangkau titik-titik sulit di lereng gunung.
“Beberapa lokasi berada di lereng curam dan membutuhkan peralatan khusus. Keselamatan personel tetap prioritas utama,” tegas Arif.
Sementara itu, hingga Minggu malam, sebagian tim SAR masih bertahan di Posko Leang-leang, Maros, sementara tim lain bergeser ke Balocci, Kabupaten Pangkep, menyusul laporan warga yang melihat puing pesawat dari arah puncak Gunung Bulusaraung.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengungkapkan bahwa tim sempat mendeteksi satu titik merah yang dicurigai sebagai serpihan pesawat.
“Kami melihat satu titik merah yang patut dicurigai. Lokasi ini akan menjadi fokus pencarian lanjutan saat cuaca memungkinkan,” ujarnya.










