“Jika kita memiliki fasilitas uji klinis yang kuat, maka pengembangan obat bisa dilakukan di dalam negeri dengan standar internasional. Ini bagian penting dari kemandirian kesehatan bangsa,” katanya.
CRU RS Unhas juga dirancang mengikuti standar Good Clinical Practice (GCP), sebuah pedoman internasional yang memastikan setiap penelitian dilakukan secara etis, aman bagi partisipan, dan menghasilkan data ilmiah yang dapat dipercaya.
Menariknya lagi, fasilitas ini tidak hanya menjadi ruang penelitian, tetapi juga laboratorium pembelajaran bagi generasi baru tenaga kesehatan. Dokter spesialis, mahasiswa kedokteran, serta peneliti muda akan mendapat kesempatan mempelajari langsung metodologi uji klinis modern.
Dengan demikian, CRU tidak hanya melahirkan inovasi medis, tetapi juga mencetak peneliti dan dokter masa depan yang siap bersaing di tingkat global.
Melalui fasilitas ini, RS Unhas berharap kolaborasi antara akademisi, industri farmasi, dan pemerintah dapat semakin kuat.
Dari Makassar, sebuah langkah baru dimulai langkah menuju masa depan di mana obat-obatan inovatif tidak lagi bergantung pada luar negeri, tetapi lahir dari riset dan kemampuan bangsa sendiri.










