RS Unhas Luncurkan Pusat Uji Klinis Modern, Dorong Lahirnya Obat Karya Anak Bangsa

RS Unhas Luncurkan Pusat Uji Klinis Modern, Dorong Lahirnya Obat Karya Anak Bangsa

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Makassar – Sebuah langkah besar dalam dunia kesehatan lahir dari Timur Indonesia. Di tengah geliat riset medis nasional, Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin (RS Unhas) menghadirkan Clinical Research Unit (CRU), fasilitas uji klinis modern yang berpotensi menjadi “dapur ilmiah” bagi lahirnya obat-obatan masa depan buatan anak bangsa.

Peresmian fasilitas ini dilakukan langsung oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, bersama Rektor Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa, pada 5 Maret 2026 di Makassar.

Namun CRU bukan sekadar ruangan laboratorium dengan peralatan canggih. Fasilitas ini adalah tempat di mana sebuah ide ilmiah yang sebelumnya hanya ada di jurnal penelitian atau di balik mikroskop, mulai diuji untuk menjadi solusi kesehatan nyata bagi manusia.

Di sinilah berbagai inovasi medis akan melewati tahap paling krusial: uji klinis. Proses ini menentukan apakah sebuah obat, vaksin, atau alat kesehatan benar-benar aman dan efektif digunakan oleh masyarakat.

Rektor Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa, menyebut kehadiran CRU sebagai langkah strategis yang menghubungkan dunia akademik dengan dunia layanan kesehatan.

Selama ini, banyak temuan ilmiah dari para peneliti kampus yang berhenti pada tahap laboratorium. Dengan adanya pusat uji klinis seperti CRU, penelitian tersebut dapat melangkah lebih jauh hingga benar-benar dimanfaatkan dalam praktik medis.

“Ini bukan hanya fasilitas penelitian. Ini adalah jembatan antara ide ilmiah dengan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Hal menarik lainnya, CRU RS Unhas juga membuka peluang bagi Indonesia Timur untuk menjadi panggung baru riset medis nasional. Selama ini, sebagian besar pusat penelitian klinis masih terpusat di Pulau Jawa.

Dengan hadirnya CRU di Makassar, para peneliti, industri farmasi, hingga institusi kesehatan di kawasan timur Indonesia kini memiliki akses lebih dekat untuk melakukan penelitian klinis berstandar global.

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menilai keberadaan fasilitas ini sangat penting bagi masa depan industri farmasi nasional. Ia menegaskan bahwa kemampuan melakukan uji klinis di dalam negeri menjadi salah satu kunci untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap obat impor.