Terkini.id, Jakarta - Reynhard Sinaga, mahasiswa program doktoral di Manchester University menjadi bulan-bulanan media di Inggris lantaran aksi bejatnya melakukan pemerkosaan terhadap ratusan pria.
Apartemennya menjadi saksi aksi bejatnya itu memerkosa korban secara rutin, malam demi malam, mulai Januari 2015 sampai tertangkap pada 2 Juni 2017.
Dalam satu kasus, Reynhard cuma memerlukan 60 detik untuk mendapatkan sasaran pria muda. Sejak awal persidangan, Reynhard menyanggah ia memperkosa mereka dan mengatakan hubungan itu dilakukan atas dasar suka sama suka, walaupun bukti di pengadilan menunjukkan para korban yang diperkosa tidak sadar.
Melansir dari bbc, Reynhard terlihat tampak sering tersenyum, ramah dan berperawakan kurus, penampilan yang tidak membuat targetnya curiga.
Keramahan inilah yang membuat sekitar 190 pria muda menerima ajakannya untuk melanjutkan perbincangan di apartemennya - lokasi tempat dia membius dan memperkosa korbannya - sebagian berkali-kali.
Kesan terhadap Reynhard ini disebutkan oleh 48 korban pria muda yang kasusnya telah disidangkan, dalam empat tahap, mulai Juni 2018 sampai Desember 2019.
Sekitar 70 korban lain masih belum diidentifikasi.
Kepolisian Manchester Raya, Inggris dapat mengetahui jumlah korban sebesar ini karena Reynhard Sinaga memfilmkan semua aksinya.
Reynhard Sinaga dihukum seumur hidup dengan masa hukuman minimal 30 tahun berada di penjara oleh Pengadilan Manchester, Inggris pada Senin (6/1).
Ia terbukti melakukan 159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 orang pria, selama rentang waktu dua setengah tahun dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017.
Di antara 159 kasus tersebut terdapat 136 kasus perkosaan, di mana sejumlah korban diperkosa berkali-kali.
Reynhard berasal dari keluarga mapan yang tinggal di Depok, Jawa Barat. Ia merupakan anak tertua dari empat bersaudara.
Ayahnya adalah pengusaha yang bergerak di sejumlah bidang.
Reynhard lulus dari fakultas teknik jurusan arsitektur di Indonesia pada 2006 dan melanjutkan studi ke Inggris setahun setelah itu.
Ia meraih tiga gelar magister di Manchester. Ia tengah melanjutkan studi doktoral di Universitas Leeds saat tertangkap, namun tetap tinggal di Manchester.
Dari penuturannya, Reynhard diketahui pernah bekerja sebentar di dua klub sepak bola Manchester, toko baju dan juga di bar di Gay Village, kawasan yang sering dikunjunginya.
Ia juga sering beribadah di salah satu gereja di kota itu.
Sasaran Reynhard adalah pria muda - sebagian besar berusia 20 tahunan - yang pada umumnya tengah berkumpul dan minum-minum bersama rekan-rekan mereka di klub-klub malam.
Banyak di antara mereka yang begitu mabuk dan tidak ingat pertemuan dengan Reynhard dan cuma beberapa yang ingat momen saat diajak ke apartemennya, namun setelah itu tak ingat apa-apa lagi.
Di sebagian rekaman, Reynhard tampak meniduri para pria muda yang tidak sadar, di sebagian lainnya terlihat ada yang muntah sementara Reynhard terus menjalankan aksinya.
'Obat rahasia untuk membuatmu jatuh cinta'
Untuk mengidentifikasi para korban ini, para detektif menggunakan rekaman film dan "trofi" berupa barang milik korban yang diambil Reynhard termasuk dompet, jam tangan, kartu identitas serta unduhan akun media sosial.
Para penyidik juga menggunakan teknologi pengenalan wajah, bekerja sama dengan universitas dan lembaga-lembaga terkait di seluruh Inggris untuk mencari tahu korban.
Para petugas polisi juga menelusuri apakah Reynhard sampai membunuh korban, dengan meneliti kasus kematian atau orang yang hilang.
Namun tidak menemukan bukti tersebut.
Setelah mengetahui identitas korban, para petugas mengontak korban dan memberi tahu bahwa mereka adalah korban serangan seksual.
Lisa Waters dariSt Mary's Sexual Assault Referral Centre, Pusat Bantuan Serangan Seksual St Mary's, Manchester mengatakan para petugas dengan didampingi detektif melakukan kontak pertama dengan korban dan "langsung menawarkan bantuan konseling".
Waters mengatakan bahwa memberi tahu korban apa yang terjadi merupakan sesuatu yang sangat sulit.
Sebagian korban, menurut Waters, memilih untuk tidak memberi tahu siapa pun, karena berbagai alasan, termasuk untuk melindungi kejiwaan mereka sendiri, malu, atau bahkan takut untuk menghadapi tanggapan orang.
Reynhard, juga terungkap memberi tahu sejumlah temannya - yang tak curiga apa pun - tentang aksinya karena dia mengatakan berbagai hubungan seks itu atas dasar suka sama suka.
Dalam satu pesan teks tentang korban pertama yang memberikan kesaksian di pengadilan, Reynhard sempat memamerkan apa yang terjadi pada malam tahun baru 2014.
"Saya tidak dapat ciuman tahun baru, tapi saya sudah melakukan hubungan seks pertama tahun 2015," tulisnya dan menambahkan pria yang dimaksud "adalah pria heteroseksual pada 2014, dan 2015 adalah terobosan dalam dunia gay, hahaha."
Dalam percakapan teks lain ia sempat membual tentang kemahirannya menggaet pria "heteroseksual" dan menulis," Teguk racun rahasiaku, saya akan membuatmu jatuh cinta."
Pejabat polisi Manchester Mabs Hussain mengatakan mereka memperkirakan Reynhard melakukan tindak kejahatan sekitar 10 tahun, jauh lebih lama dari periode dua setengah tahun berdasarkan bukti yang ada, mulai dari Januari 2015 sampai ia ditahan pada Juni 2017.
Tim penyidik telah berbicara dengan sejumlah pria, yang diidentifikasi berdasarkan bukti foto-foto yang diambil sebelum 2015.
Mereka ingat pernah berada di apartemen Reynhard namun tak ingat apa yang terjadi dan tak ada bukti lebih lanjut bahwa mereka diperkosa.
Reynhard memberikan pembelaannya pada sidang pertama, Juni 2018 dan pada sidang keempat, Desember 2019, dengan menyatakan apa yang disebut hakim sebagai "pembelaan yang tidak masuk akal".
Reynhard menyebut setiap korban setuju untuk dipenetrasi sambil berpura-pura tidur untuk menjalankan "fantasi seks"nya.
Selama empat persidangan yang berlangsung, hakim melarang media memberitakan proses hukum kasus ini untuk memastikan persidangan berjalan adil.
Larangan baru dicabut setelah hakim mengeluarkan putusan pada Senin (06/01).
Peradilan Inggris dengan sistem juri dalam kasus perkosaan ini menggunakan empat tim juri yang berbeda.
Dalam sidang terungkap, saat pertemuan awal dengan para pria muda itu , tidak ada pembicaraan terkait seks, dan Reynhard menggunakan berbagai cara untuk mengajak sasarannya.
Sebagian diajak minum, sebagian mencas telepon genggam mereka sambil menunggu taksi untuk pulang.
Dari 48 orang pria muda - semua adalah pria kulit putih Inggris - yang kasusnya telah disidangkan, 45 orang adalah heteroseksual dan tiga gay. Sebagian besar tinggal di Manchester.
Kesaksian mereka di persidangan menunjukkan bagaimana Reynhard beraksi.
Semua bukti rekaman video yang direkam Reynhard sendiri menunjukkan pria yang diperkosanya tak sadar.
Namun pria kelahiran Jambi ini tetap menekankan bahwa "para pria itu berpura-pura tidur" sebagai bagian dari permainan "fantasi seks".
Bangun keesokan hari dengan celana terbuka
Keramahan dan penampilan fisik Reynhard yang kecil menyebabkan korban tak curiga mereka diajak ke apartemennya.
Dua korban memberikan kesaksiannya dalam dua sidang yang dihadiri BBC News Indonesia Desember lalu.
Pada Selasa pagi 3 Desember 2019, sekitar pukul 10:30 pagi, setengah jam sebelum Hakim Suzanne Goddard masuk ruang sidang Pengadilan Manchester, Reynhard masuk didampingi dua petugas.
Dia mengenakansweater(baju hangat) krem dan celana hitam, berkaca mata dan membawa seberkas dokumen.
Reynhard tampak beberapa kali berbicara dengan para petugas sebelum hakim masuk.
Hari itu, sidang menghadirkan saksi pertama, seorang pria yang diperkosa Reynhard pada 2015.
Korban pertama yang dihadirkan duduk di balik tirai.
Reynhard dan pengunjung sidang termasuk media yang hadir diminta untuk keluar terlebih dahulu sebelum korban dihadirkan dan duduk dibalik tirai.
Hanya hakim, 12 anggota juri, jaksa dan kuasa hukum yang dapat melihat korban yang memberikan kesaksiannya.
Dari empat pengadilan terpisah sejak Juni 2018 sampai Desember 2019, hanya beberapa korban memberikan kesaksian tanpa sekat.
Image captionPengadilan Manchester mengadilan Reynhard Sinaga dari Juni 2018 sampai Desember 2019.
Sepanjang sidang pada 3 Desember sekitar lima jam itu, Reynhard sering menyisir rambut panjangnya yang belah pinggir, dengan jari-jarinya.
Reynhard juga tampak mendengarkan keterangan korban sambil sekali-sekali menunduk untuk mencatat.
Jaksa penuntut, Iain Simkin yang pertama kali mengajukan pertanyaan kepada korban, termasuk di mana korban bertemu dengan Reynhard dan mengapa sampai akhirnya ia bisa sampai terbangun di apartemen pria Indonesia itu.
Korban yang saat kejadian berusia 19 tahun tersebut mengatakan ia pergi minum-minum dengan rekan-rekan dan pacarnya pada Sabtu malam, 24 Januari 2015.
Saat ditanya apakah dia dalam keadaan mabuk, pria itu mengatakan dalam kondisi cukup mabuk.
Ia bersama pacar dan teman-temannya berada di satu klab malam dan keluar dari klab karena bertengkar dengan sang pacar.
"Saya ingat dia mengajak saya ke tempatnya," kata pria itu dan menambahkan Reynhard "tampak baik" sehingga ia bersedia diajak.
Ia ditawari satu gelas minuman keras dan mengatakan merasa mual dan tak ingat apa-apa lagi setelah itu.
Saat ditanya jaksa penuntut apa yang ia rasakan saat terbangun pada pukul 10.00 pagi keesokan harinya, pria itu mengatakan "sangathangover(sakit kepala berat setelah mabuk)".
Bagaimana dengan kondisi pakaian, tanya jaksa, dan dijawab "celana dalam keadaan terbuka".
Korban juga mengatakan pacarnya mencarinya sepanjang malam dan menelepon polisi.
"Saya dapat cowok 19 tahun"
Reynhard memamerkan ke teman-temannya telah mendapatkan pria heteroseksual.
Sebelum menghadirkan korban, jaksa penuntut memutar vídeo perkosaan yang direkam oleh Reynhard sendiri dan dipertontonkan ke 12 juri melalui beberapa monitor TV di meja.
Dalam vídeo berdurasi tiga menit itu - yang tidak diperlihatkan ke arah pengunjung dan media - terdengar suara orang mendengkur.
Jaksa penuntut mengatakan apa yang dialami korban pria itu serupa dengan apa yang dialami oleh para korban lain.
Korban tengah keluar di klab malam, "terpisah dengan pacar dan rekan-rekannya dan menjadi target terdakwa," kata jaksa.
"Rekaman itu sangat menggambarkan tindakan kriminal Reynhard Sinaga, yang dilakukan berulang kali dan lagi terhadap semua korban yang ada dalam dakwaan," kata jaksa.
"Pria umur 19 tahun ini terlentang tak sadarkan diri di lantai apartemen terdakwa dan terdakwa menurunkan celana dan celana dalam sampai ke paha dan bajunya ditarik ke atas."
Saat ditanya jaksa penuntut apakah ia sempat berbicara dengan Reynhard pada keesokan paginya, korban mengatakan ia bertanya apa yang terjadi dan dijawab bahwa "Saya tidak sadar."
Sejumlah pertanyaan yang diajukan pengacara Reynhard, Richard Litter, antara lain, apakah korban memang mau diajak ke apartemen untuk bereksperimen berhubungan seksual sesama jenis.
Pertanyaan yang langsung dijawab "tidak" oleh korban.
Pacar korban pertama yang memberikan kesaksian ini juga dihadirkan sebagai saksi.
Perempuan yang pada saat kejadian disebutkan berumur 20 tahun bercerita bagaimana ia mencari pacarnya dengan menelepon teman-temannya dan juga polisi.
Setelah mendengarkan kesaksian korban pertama dalam sidang keempat ini, jaksa membacakan pesan teks yang dikirimkan Reynhard kepada teman-temannya.
Sejumlah teks antara lain berbunyi, "Saya dapat cowok 19 tahun tadi malam yang lagi bertengkar dengan pacarnya yang menyebalkan. Tapi pagi ini, baru tahu kalau pacarnya menelepon seluruh dunia bahwa ia hilang… telepon teman, ibu dan polisi," tulis Reynhard.
Pesan lain Reynhard kepada temannya berbunyi, "Dia menggairahkan, dan tinggi, cowok baik, kalem dan menyenangkan. Dia pantas mendapat cewek yang lebih baik atau cowok…hahaha. Ya, yang pertama buat dia (berhubungan sesama jenis)"
Diperkosa lima kali
Saksi terakhir pada persidangan keempat yang dihadirkan pada Kamis 12 Desember 2019 adalah korban yang pada saat kejadian berumur 20 tahun.
Jaksa mengatakan sama seperti korban-korban perkosaan berantai lainnya, "korban terbangun di apartemen terdakwa, tak ingat apa pun, tidak memberikan persetujuan untuk difilmkan atau difoto dan tidak memberikan persetujuan untuk berhubungan seks dengan Reynhard Sinaga."
"Ia juga mengira terdakwa hanya membantunya, namun faktanya Reynhard Sinaga memperkosanya lima kali."
Pada malam kejadian, Kamis 27 April 2017, korban pria ini bersama sejumlah teman-temannya pergi ke klab malam, yang tak jauh dari tempat tinggal Reynhard.
Selama persidangan yang dihadiri BBC News, Reynhard tampak riang saat memasuki ataupun keluar dari ruang sidang.
Hakim menyebutkan ia tampak "menikmati jalannya sidang".
Mungkin jumlah korban yang sesungguhnya tak pernah diketahui.
Dalam persidangan yang melibatkan 48 korban pria muda dalam tindak perkosaan selama rentang waktu dua setengah tahun ini terungkap, para pria muda dalam keadaan rentan - mabuk dan tersesat- yang menjadi korban Reynhard.
Jaksa dan polisi menyatakan Reynhard menggunakan obat bius GHB untuk membuat korbannya tidak sadar.
Namun aparat tidak menemukan jejak obat bius di apartemen Reynhard.










