Retakan Tanah di Kenya Makin Lebar, Tanda Benua Afrika Bakal Terbelah

Retakan Tanah di Kenya Makin Lebar, Tanda Benua Afrika Bakal Terbelah

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Terkini.id - Retakan tanah dengan panjang beberapa meter terjadi di Kenya, pada awal 2018 lalu. Retakan tanah yang makin melebar itu, menimbulkan dugaan peneliti, bahwa Benua Afrika bakal terbelah menjadi dua bagian. Negara di timur Afrika itu diprediksi akan membentuk benua baru bersama Somalia, Tanzania dan setengah dari Ethiopia. Sebagaimana dilansir dari Kenyans.co.ke, perpecahan daratan tersebut disebutkan bakal selesai dalam 50 juta tahun. Menurut para ilmuwan dari Institut Sains dan Teknologi New Mexico yang dikutip oleh Nation Newsplex, retakan besar (Great Rift) tersebut akan membagi Afrika menjadi dua lempeng tektonik. Lempeng pertama adalah lempeng Nubia yang mencakup sebagian besar benua, sedangkan lempeng kedua adalah lempeng Somalia dengan luas wilayah yang besarannya lebih kecil.

Menjauh 2,4 cm Per Tahun

Ahli geologi memperkirakan lempeng Somalia telah bergerak menjauh dari lempeng Nubia dengan laju 2,4 sentimeter per tahun. Diperkirakan, Lembah Great Rift sudah mulai terbentuk sejak 25 juta tahun yang lalu. Keretakan besar itu bisa terlihat di kawasan Suswa, Kenya. Aktivitas saling mendorong atau menarik di kerak bumi menyebabkan batu meluncur ke atas atau ke bawah. [caption id="attachment_132455" align="alignnone" width="700"]Retakan Tanah di Kenya Makin Lebar, Tanda Benua Afrika Bakal Terbelah Retakan dilihat dari google earth (the conversation)[/caption] Lempeng tektonik diketahui hampir tak pernah diam. Mereka menabrak satu sama lain atau jatuh di bawah atau di atas satu sama lain. Mereka juga dapat bergerak terpisah satu sama lain. Melansir dari National Geographic, ,elaui tulisan di The Conversation, Lucia Perez Diaz, peneliti dari Fault Dynamics Research Group, Universitas Royal Holloway, mencoba menjelaskan fenomena tersebut. Litosfer Bumi (yang terbentuk oleh kerak dan bagian atas mantel) terpecah-pecah menjadi beberapa lempeng tektonik. Lempeng-lempeng ini tidak statis, tapi saling menguntungkan karena bergerak dengan kecepatan yang bervariasi. Bagaimana mekanisme pergerakan mereka masih diperdepatkan hingga saat ini, tapi kemungkinan ada arus konveksi dalam astenofer dan kekuatan yang terbentuk di perbatasan lempeng. Kekuatan-kekuatan tersebut bukan hanya menggerakan lempeng di sekitarnya, tapi juga membuatnya runtuh, membentuk celah, atau berpotensi menciptakan batas lempeng baru seperti di sistem Lembah Celah Afrika Timur saat ini. Lembah Celah Afrika Timur sendiri membentang 3.000 kilometer dari Teluk Aden di utara menuju Zimbabwe di Selatan, membagi lempeng Afrika menjadi dua bagian yang tidak seimbang, yaitu lempeng Somali dan Nubian. Aktivitas pergerakan di sepanjang lembah celah (yang melewati Ehiophia, Kenya dan Tanzania) ini semakin jelas ketika retakan besar tiba-tiba muncul di barat daya Kenya.