Terkini.id, Jakarta - Tengku Zulkarnain menyoroti soal kesenjangan ekonomi antara umat Islam dengan sekekompok orang yang ia sebut 'turunan pendatang asing.'
Tengku Zul menyebutkan bahwa Umat Islam di Indonesia membangun 88,2% populasi dari total 268 juta penduduk.
"Umat Islam di Indonesia berjumlah 88,2% dari 267 juta jiwa. Sekitar 236 juta jiwa," tulisnya di akun Twitter @ustadztengkuzul pada Jumat, 19 Februari 2021.
Lalu, ia mengaitkan bahwa jumlah mayoritas tersebut tidak membuat umat Islam menguasai perekonomian di Indonesia.
Justru, menurut Tengku Zul, kekayaan dan uang di Indonesia dikuasai oleh sekelompok kecil orang yang merupakan keturunan pendatang asing.
"Tapi yang kaya dan menguasai duit hanya sekelompok kecil turunan pendatang asing. Sampai kapan?" katanya.
Tengku Zul lalu menyoroti bahwa jika umat Islam tidak memiliki inisiatif untuk mendukung perekonomian, maka selamanya Umat Islam tidak akan berkembang.
Ia memberi contoh yang dapat dilakukan yaitu misalnya belanja di warung tetangga dan Pasar Pemerintah Daerah (Pemda).
"Jika belanja saja tidak mau ke warung tetangga dan Pasar Pemda, sampai kiamat umat akan terpinggirkan," katanya Tengku Zul.
Cuitan Tengku Zul cukup mengundang kontroversi. Ada yang sepakat dan mengajak umat Islam bersatu membangun ekonomi sesama.
"Kan sudah ada beritanya. Islam akhir jaman seperti buih di lautan terombang-ambing. Yang bisa rubah cuma kita sebagai umat, kalau mau bersatu tanpa ada friksi-friksi mahzab," tulis @SajaSusanto.
Namun, ada yang menyindir bahwa untuk persoalan belanja saja, Tengku Zul membawa-bawa isu agama.
"Belanja aja pake isu agama. ngeri amadd," balas @AlusmanP.
Ada pula yang menyindir Tengku Zul dengan memintanya belajar dari Cina, mengingat ia memang membawa-bawa frasa 'keturunan asing' dalam cuitannya.
"Sampai kapan? Belajarlah sama China. Biar nggak terpinggirkan. Mereka rajin dan ulet. Nggak malas malasan. Ada tabungan buat modal. Sudah sukses baru piknik. Kalau jual tanah duitnya buat piknik? Paham?" komentar @Edyokeeee










