Terkini.id, Jakarta - Bhima Yudhistira selaku pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios) memberikan prediksinya terkait inflasi Indonesia yang kembali meningkat.
Menurut Bhima Yudhistira inflasi RI yang semakin tinggi akan memberikan dampak buruk bagi kelas menengah kebawah.
Kelompok masyarakat menengah kebawah diprediksi akan tenggelam dalam jurang kemiskinan akibat lonjakan inflasi ini.
Tidak sampai disitu, Bhima Yudhistira menilai kelas menengah yang sebelumnya tidak termasuk dalam golongan orang miskin, diramal akan menjadi orang miskin baru.
"Inflasi membuat garis kemiskinan naik. Kelas menengah rentan yang sebelumnya tidak masuk kategori miskin bisa jadi orang miskin baru," kata Bhima Yudhistira.
Lebih lanjut lagi, komponen garis kemiskinan 75 persennya berasal dari bahan makanan yang akan membuat sensitivitas terhadap meningkatnya kemiskinan akibat inflasi pangan bergejolak (volatile food) dan hal ini akan memiliki efek yang signifikan.
Bhima Yudhistira menyarankan agar pemerintah menyediakan jaring pengaman sosial yang berbentuk bantuan pangan dan tunai.
Nantinya bantuan pangan dan tunai tersebut akan diberikan kepada 115 juta jiwa penduduk kelas menengah rentan.
"Sekarang yang disasar program bukan hanya orang miskin, tapi juga kelompok rentan termasuk pekerja yang upahnya tergerus inflasi," ucap Bhima Yudhistira.
Disisi lain, pengamat ekonomi CORE Yusuf Rendy berpendapat kondisi inflasi saat ini belum memberikan efek yang berarti bagi masyarakat.
Hal tersebut dikarenakan inflasi inti yang masih terjaga di bawah 3 persen.
"Dampak dari kenaikan inflasi saya kira belum sepenuhnya terasa oleh masyarakat, karena dari sisi produsen saat ini masih menahan kenaikan harga produksi untuk tidak ditransmisikan ke harga konsumen," ungkap Yusuf Rendy.
Namun demikian, beberapa masyarakat kelompok menengah ke bawah dinilai sudah merasakan tekanan. Apalagi jika inflasi yang tinggi ini terus berlanjut dalam waktu lama.
"Kita tahu bahwa beberapa bantuan terutama untuk kelompok kelas menengah yang tadinya disalurkan oleh pemerintah di tahun ini tidak disalurkan kembali," imbuh Yusuf Rendy.
Sebagai informasi, inflasi Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak tahun 2015. Pada bulan Juli 2022, inflasi Indonesia berada di level 4,94 persen.
Kenaikan inflasi didukung oleh melonjaknya harga pangan seperti cabai rawit, bawang merah hingga ikan segar.
Selanjutnya inflasi juga akan membuat tarif angkutan udara, listrik dan sewa rumah semakin meningkat.










