Terkini.id, Jeneponto - Sebanyak 3.500 Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Masyarakat Kabupaten Jeneponto mengikuti gerakan pengukuran tekanan darah (Tensi) serentak se Sulawesi Selatan dalam rangka hari kesehatan Nasional (HKN) ke-59 dengan tema transformasi kesehatan untuk Indonesia Maju, Jumat, 3 November 2023.
Dalam kegiatan turut hadir, Sekretaris Daerah ( Sekada), Arifin Nur, Wakapolres, Kompol Muh Idrus, Ketua TP PKK Jeneponto, Hj Hamsiah Iksan, para Kepala OPD dan pejabat Pemkab Jeneponto lainnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto, Hj Syusanty A Mansyur menyampaikan kegiatan tersebut merupakan kegiatan serentak se Sulawesi Selatan.

"Alhamdulillah hari kita turut melaksanakan gerakan pengukuran tekanan darah, kegiatan ini merupakan program yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Kesehatan," kata Hj Syusanty Mansyur.
Lebih lanjut Hj Syusanty mengatakan, dalam kegiatan tersebut, Pemkab Jeneponto menargetkan 2.500 peserta yang mengikuti pengukuran tekanan darah.
"Di Kabupaten Jeneponto kegiatan ini dilaksanakan serentak di 20 Puskesmas dengan target 2.500 peserta, Alhamdulillah, sesuai dengan data yang kami terima sudah sangat melampaui target, sudah 3.500 orang yang sudah diukur tekanan darahnya," jelas Hj Syusanty.
Pj Gubernur Sulawesi Selatan, Bahtiar Baharuddin yang dibacakan Kepala Dinas kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, H.M.Ishak Iskandar mengatakan, Hipertensi atau tekanan darah tinggi, sering disebut sebagai “the silent killer” karena sering tanpa keluhan.

"Pasien sering tidak tahu bahwa dirinya mengidap hipertensi, tetapi kemudian mendapati dirinya sudah mengidap penyakit penyulit atau komplikasi dari hipertensi. Seseorang didiagnosis hipertensi jika dalam 3 kali pengukuran tekanan darah berturut-turut di waktu yang berbeda menunjukkan hasil tekanan sistole (angka yang pertama) ≥ 140 mmHg atau tekanan diastolik (angka yang kedua) ≥ 90 mmHg," jelasnya.
Menurutnya, Hipertensi merupakan masalah kesehatan global, sekitar 1,13 Miliar orang didunia menyandang hipertensi, artinya 1 dari 3 orang di dunia terdiagnosis Hipertensi (WHO, 2016).
"Di Indonesia angka kesakitan Hipertensi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dilihat dari data Riskesdas 2018 yaitu 34,1 persen (4 dari 10 orang), dibandingkan data Survei Indikator Kesehatan Nasional (SIRKESNAS) 2016 yaitu 32,4 persen (3 dari 10 orang). Hasil Riskesdas tahun 2018 prevalensi Hipertensii di Sulawesi Selatan yaitu 31, 68 persen. Hasil data dari Aplikasi Sehat Indonesia mulai tahun 2022 menujukkan bahwa angka Hipertensi 23, 18 persen, Obesitas 48,81 persen, DM Type2 1, 81 persen," terangnya.










